REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang tengah menguji sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan 75 siswa SMKN 11 Semarang mengalami keracunan pada Kamis (8/1/2025). Namun mereka mengakui bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai MBG ke sekolah tersebut tak mematuhi standar operasional prosedur (SOP).
Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengungkapkan, SPPG penyuplai MBG ke SMKN 11 Semarang adalah SPPG Banyumanik Pudakpayung IV. "SPPG Pudakpayung IV itu ada beberapa SOP yang tidak dilakukan dengan tepat," ujarnya ketika dihubungi, Jumat (9/1/2025).
Dia menambahkan, setidaknya terdapat 12 SOP yang harus dipatuhi dan dilaksanakan SPPG dalam proses pengolahan serta penyajian MBG. "Dari temuan kawan-kawan tadi, ada beberapa (SOP) yang tidak dilakukan dengan tepat (oleh SPPG Banyumanik Pudakpayung IV)," kata Hakam.
Namun dia tak menjelaskan secara terperinci SOP apa yang tak dilaksanakan SPPG Banyumanik Pudakpayung IV. Hakam hanya menyampaikan bahwa SPPG tersebut sebenarnya telah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
Hakam mengungkapkan, Dinkes Kota Semarang akan menguji sampel menu MBG yang disajikan di SMKN 11 Semarang pada Kamis lalu. "Kami belum tahu ya intoksikasinya berasal dari mana, apakah itu produk makanan atau sumber air. Semua yang berhubungan dengan produk mereka, itu baru kita lakukan pemeriksaan hari ini. Hari ini masuk laboratorium," ucapnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jateng mengonfirmasi adanya kasus dugaan keracunan MBG di SMKN 11 Semarang. "Itu kejadiannya kemarin (Kamis)," ungkap Plt Kepala Cadang Dinas Wilayah I Disdikbud Jateng, Haris Wahyudi, ketika dikonfirmasi, Jumat (9/1/2025).
Dia menerangkan, para siswa SMKN 11 Semarang mulai mengalami gejala seperti keracunan berupa pusing dan mual-mual pada sore sekitar pukul 16:00 WIB. "Kita data ada 75 anak yang melaporkan. Ada yang dirawat rumah sakit empat, kemudian yang dua sudah pulang ini," ujarnya seraya menambahkan bahwa para siswa lainnya hanya menjalani penanganan di rumahnya masing-masing.
Haris mengungkapkan, SMKN 11 Semarang memiliki 1.400-an siswa. Dia mengatakan, Disdikbud Jateng akan ikut mendalami mengapa hanya 75 siswa yang mengalami gejala seperti keracunan setelah mengonsumsi MBG.
"Nanti akan diteliti lebih lanjut. Mungkin karena faktor makanan yang sudah bau atau apa. Memang ada laporan dari siswa (makanannya) agak bau," kata Haris.

1 week ago
15















































