Akibat Konflik Lahan dan Krisis Pakan, Peternak Sapi di Indramayu Merana

4 hours ago 5

Peternak menggembala sapi di padang rumput di desa Jatisura, Cikedung, Indramayu, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Peternak sapi dan kambing di sentra peternakan Blok Bolang, Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengeluhkan krisis pakan bagi ternak mereka. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya konflik lahan dengan petani mitra pabrik gula.

Salah seorang peternak sapi di Blok Bolang, Tarmo, mengatakan, keterbatasan pakan ternak itu menyusul tidak adanya lagi lahan penggembalaan. Hal itulah yang akhirnya memicu kesulitan pakan bagi hewan ternak.

“Dulu ada tanah pangonan, tapi sekarang sudah tidak ada. Kami jadi susah menggembalakan sapi,” ujar Tarmo, Selasa (13/1/2026).

Kelompok Ternak Kandang Bolang di Desa Jatisura selama ini dikenal sebagai salah satu pemasok daging sapi dan kambing terbesar di Kabupaten Indramayu. Hasil ternak mereka tidak hanya dipasarkan ke pasar tradisional, tetapi juga ke pasar modern hingga pusat perbelanjaan, bahkan ke luar daerah.

Namun sejak beberapa waktu terakhir, para peternak mengaku semakin kesulitan mendapatkan pakan untuk ternak mereka. Situasi tersebut diperburuk dengan munculnya konflik lahan dengan petani mitra pabrik gula.

Dalam konflik tersebut, petani mitra pabrik gula menuding sapi-sapi milik peternak telah merusak lahan tebu mereka. Bahkan disebutkan lahan yang diduga rusak akibat penggembalaan ternak itu mencapai 41 hektare, yang tersebar di Desa Jambak seluas 20 hektare dan Desa Amis seluas 21 hektare.

Para peternak pun diminta mengganti kerugian sebesar Rp 10 juta per hektare. Namun, para peternak keberatan karena merasa tidak jelas kerusakan lahannya.

“Kami diminta mengganti rugi atas kerusakan yang kami sendiri tidak tahu kerusakannya seperti apa,” ucapnya.

Persoalan itupun sempat dimediasi di kantor Kecamatan Cikedung. Dalam mediasi yang berlangsung pada 5 Januari 2026, camat Cikedung mengundang pihak-pihak terkait untuk membahas persoalan tersebut.

“Kami siap mengganti, tapi harus diverifikasi dulu kerusakannya. Jangan sampai memberatkan kami sebagai peternak,” tukas Tarmo.

Read Entire Article
Politics | | | |