Ancaman Bencana Iklim Kian Nyata, Berpotensi Gerus Pertumbuhan Ekonomi Nasional

2 weeks ago 13

Warga beraktivitas di antara tumpukan kayu yang memenuhi area Pesantren Darul Mukhlisin dan pemukiman di Desa Menanggini, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Tumpukan gelondongan kayu masih mengepung area Pesantren Darul Mukhlisin setelah 23 hari bencana banjir bandang menimpa kawasan tersebut. Warga berharap ribuan kayu gelondongan tersebut segera dibersihkan agar aktivitas warga dan pesantren tidak terhambat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim dan akselerasi perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) bukan lagi risiko jangka panjang bagi Indonesia. Dua isu itu kini menjadi tantangan nyata yang mulai mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonom Senior sekaligus Direktur Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto memperingatkan variabel-variabel global ini berpotensi mengoreksi angka Produk Domestik Bruto (PDB) jika tidak segera diantisipasi melalui kebijakan yang terukur.

Menurut Eko, saat ini Indonesia berada pada titik di mana bencana alam akibat perubahan iklim mulai memberikan dampak sistemik terhadap ekonomi. Ia mencatat proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengungkapkan meningkatnya tingkat kebencanaan di Indonesia pada tahun-tahun ke depan.

“Memang dampaknya mungkin tidak langsung terlihat sebesar satu atau dua persen secara instan, tetapi ini semakin nyata,” ujar Eko kepada Republika, Rabu (7/1/2026).

Ia menyoroti bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera pada akhir November tahun lalu. Sumatera berkontribusi sekitar 25 persen terhadap PDB nasional. Jika aktivitas ekonomi di wilayah tersebut terganggu oleh bencana hidrometeorologi atau dampak iklim lainnya, stabilitas PDB nasional akan ikut terombang-ambing.

Eko menyayangkan dalam proyeksi pemerintah, risiko iklim masih sering ditempatkan sebagai masalah jangka panjang yang tidak mendesak. “Padahal dalam hitungan tahun pun, peningkatan bencana terus terjadi, terutama yang dipicu oleh aktivitas manusia. Jika gempa bumi atau gunung meletus berada di luar kendali kita, bencana akibat perubahan iklim seharusnya bisa dimitigasi lebih awal,” tambahnya.

Di sisi teknologi, adopsi AI di Indonesia mulai merambah berbagai sektor, mulai dari dunia akademik hingga industri manufaktur. Sebagai Direktur Big Data Indef, Eko mencatat adanya tren masif transformasi digital berbasis AI guna meningkatkan efisiensi.

Namun, efisiensi ini membawa konsekuensi serius bagi pasar tenaga kerja. Di negara berkembang seperti Indonesia, kehadiran AI berisiko mengurangi daya serap tenaga kerja manusia karena banyak fungsi yang mulai digantikan oleh mesin.

“Ini menjadi tantangan kita sekarang. Jika sumber daya manusia (SDM) tidak segera diajarkan untuk menggunakan AI secara produktif, mereka akan tergerus oleh keandalan teknologi ini yang terus meningkat,” tegas Eko.

Read Entire Article
Politics | | | |