Antara Lega dan Luka Lama: Suara Terbelah Pendukung Manchester United Usai Amorim Dipecat

2 weeks ago 15

REPUBLIKA.CO.ID,

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER — Keputusan manajemen Manchester United memecat Ruben Amorim pada Senin (5/1/2026) menutup bab singkat karier pelatih asal Portugal itu di Old Trafford. Namun langkah manajemen MU ini berdampak luas. Pemecatan Amori kembali membuka perdebatan lama di kalangan pendukung Setan Merah tentang apakah masalah United benar-benar soal pelatih, atau justru lebih dalam dari itu.

Di luar Old Trafford, suara-suara fans yang terdengar mencerminkan perasaan campur aduk. Sebagian suporter mengaku lega. Mereka menilai Amorim terlalu kaku dalam pendekatan taktik, sering membuat keputusan mengejutkan dalam pemilihan pemain, serta kerap menyampaikan pernyataan yang membingungkan dalam konferensi pers.

“Banyak penggemar tidak senang dengan pergantian pemainnya,” ujar seorang pendukung. “Pemilihan tim, formasi, dan cara bicaranya akhir-akhir ini… dia manajer yang sangat keras kepala. Seolah semuanya harus sesuai keinginannya.”

Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang menyambut kabar pemecatan itu dengan kemarahan dan kelelahan. Amorim tercatat sebagai pelatih ke-10 Manchester United, baik interim maupun permanen, sejak Sir Alex Ferguson mundur untuk kali kedua pada 2013. Bagi kelompok kedua ini, pergantian pelatih justru dianggap sebagai pengulangan kesalahan yang sama.

“Jujur saja, saya tidak senang,” kata seorang suporter lain. “Apa pun pendapat Anda tentang Amorim, jika kita terus mengganti manajer, hasilnya akan selalu sama. Tidak akan ada kemajuan.”

Hasil imbang 1-1 melawan Leeds United pada Ahad (4/1/2025) disebut banyak penggemar sebagai titik balik. Terutama setelah Amorim secara terbuka melontarkan kritik tajam kepada manajemen klub, sesuatu yang oleh sebagian pendukung dianggap tidak mencerminkan nilai-nilai Manchester United.

“Itu awal dari akhir,” kata seorang penggemar. “Bukan gaya United membuka konflik internal di depan media. Tekanan terlihat jelas padanya. Sejujurnya, saya pikir dia sendiri ingin keluar.”

Ada pula suara yang menilai pemecatan ini datang di waktu yang kurang tepat. Setan Merah tengah kehilangan sejumlah pemain kunci akibat cedera dan tugas internasional di Piala Afrika. Salah satu yang krusial adalah absennya Bruno Fernandes akibat cedera.

“Dia sebenarnya membuat kemajuan,” ujar seorang pendukung. “Kami sempat melihat permainan yang bagus. Tapi kondisi tim tidak ideal. Saya rasa konflik dengan dewan dan direktur sepak bola Jason Wilcox menjadi pemicu terakhir.”

Reaksi beragam ini menggambarkan satu hal yang sama, yakni kegelisahan panjang pendukung Setan Merah yang masih mencari arah dan identitas selepas satu dekade lebih era Ferguson berakhir.

Amorim pergi, tetapi pertanyaan besarnya tetap menggantung. Apakah langkah pemecatan terbaru ini bisa membuat MU meraih hasil positif di lapangan? Ataukah pemecatan ini sekadar menambah daftar panjang kekeliruan yang dibuat manajemen Setan Merah dalam satu dekade lebih ke belakang?

sumber : Reuters

Read Entire Article
Politics | | | |