AS Buka Opsi Gelar Serangan Kedua ke Venezuela

2 weeks ago 21

Presiden Donald Trump memantau operasi militer AS di Venezuela bersama Direktur CIA John Ratcliffe (kiri) di Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, Sabtu, 3 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington tidak menutup kemungkinan melancarkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela. Pernyataan itu disampaikan menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer AS.

Dalam wawancaranya dengan Fox News, Sabtu, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya telah menyiapkan skenario lanjutan jika situasi berkembang ke arah yang dianggap mengancam kepentingan Amerika Serikat.

“Kami siap. Anda tahu, kami siap melakukan gelombang kedua. Semuanya sudah disiapkan. Operasi ini begitu kuat sehingga kami tidak perlu melakukannya, tetapi kami tetap siap,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa kekuatan militer AS berada dalam posisi siaga penuh.

Trump juga mengeklaim Washington mengerahkan kekuatan laut besar di kawasan tersebut. “Kami berada di luar sana dengan armada seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, dan kami siap,” katanya.

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengumumkan bahwa Maduro telah ditangkap dan dikeluarkan dari Venezuela.

Klaim tersebut memicu kebingungan dan reaksi keras dari Caracas, dengan otoritas Venezuela menyatakan belum mengetahui secara pasti keberadaan Maduro dan menuntut klarifikasi mengenai kondisinya.

Kementerian Luar Negeri Venezuela telah pun mengumumkan rencananya untuk mengajukan banding ke organisasi internasional atas tindakan Washington dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengelar rapat darurat yang membahas serangan AS ke Venezuela.

Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menegaskan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tetap menjadi satu-satunya pemimpin negara tersebut."Hanya ada satu presiden di negara ini, namanya Nicolas Maduro Moros," kata wapres pada pertemuan Dewan Pertahanan menyusul operasi yang dilancarkan AS.

sumber : Sputnik/Ria Novosti/Antara

Read Entire Article
Politics | | | |