Bahlil Sebut Proyek RDMP Balikpapan Penuh Drama tapi Tetap Tuntas

4 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, BALIKPAPAN -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan proses pengerjaan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sarat dinamika dan tantangan sejak awal pelaksanaan. Proyek strategis nasional tersebut, menurut dia, tidak sepenuhnya berjalan mulus sesuai jadwal awal.

Bahlil menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan pada Peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Senin (12/1/2026). Proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia itu semula ditargetkan rampung pada Mei 2024 sebelum mengalami sejumlah gangguan di lapangan.

“Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Seharusnya sudah jadi awal Mei 2024, tapi ada kejadian terbakar,” kata Menteri ESDM, dikutip Selasa (13/1/2026).

Ia menuturkan insiden tersebut mendorong Kementerian ESDM mengambil langkah investigatif dengan menurunkan tim Inspektorat Jenderal untuk menelusuri penyebab gangguan proyek. Dari proses pendalaman, pihaknya menemukan indikasi adanya kepentingan tertentu yang tidak menghendaki Indonesia berdaulat energi.

“Waktu itu saya perintahkan Irjen untuk investigasi. Ternyata ada udang di balik batu, masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita punya swasembada energi,” kata Bahlil.

Terlepas dari dinamika tersebut, pemerintah memastikan RDMP Balikpapan tetap diselesaikan sesuai tujuan awal. Proyek dengan nilai investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp 123 triliun itu meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari, dengan standar produk setara Euro 5 serta arah pengelolaan menuju Net Zero Emission.

RDMP Balikpapan juga berdampak langsung pada penguatan ketahanan energi nasional. Tambahan kapasitas tersebut memungkinkan peningkatan produksi bensin sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun dan menghemat devisa lebih dari Rp 60 triliun seiring berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar minyak.

Bahlil menjelaskan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun, dengan produksi domestik sebelumnya berada di kisaran 14,25 juta kiloliter. Kehadiran RDMP Balikpapan mendorong produksi dalam negeri mendekati 20 juta kiloliter sehingga impor dapat ditekan secara bertahap.

Pada sektor solar, pemerintah mulai menghentikan penerbitan izin impor sejak 2026. Dukungan pasokan kilang dan program biodiesel membuat kebutuhan solar nasional dipenuhi dari dalam negeri, termasuk penghentian impor CN 48 dan rencana penyetopan CN 51 pada semester II tahun ini.

Selain BBM, RDMP Balikpapan menghasilkan LPG serta produk petrokimia seperti propilena untuk mendukung hilirisasi industri. Proyek ini menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja, memiliki tingkat komponen dalam negeri sebesar 35 persen, serta berkontribusi pada peningkatan Produk Domestik Bruto hingga sekitar Rp 514 triliun per tahun.

Berdasarkan informasi resmi Pertamina, RDMP Balikpapan dibangun sejak 2019 untuk memodernisasi kilang eksisting. Proyek ini mencakup sistem penerimaan minyak mentah, fasilitas pengolahan, serta infrastruktur penunjang guna meningkatkan keandalan rantai pasok energi nasional.

RDMP Balikpapan dirancang dalam tiga lingkup utama yang terintegrasi. Lingkup pertama mencakup early work berupa 16 paket pekerjaan pendahuluan, mulai dari pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, hingga fasilitas penunjang konstruksi.

Lingkup kedua meliputi pembangunan dan pengembangan fasilitas utama kilang, termasuk 21 unit proses baru, 13 unit utilitas pendukung, serta revitalisasi empat unit utama pengolahan. Tahap ini ditujukan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah sekaligus menaikkan kualitas produk BBM.

Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah. Pertamina membangun dua tangki penyimpanan berkapasitas masing-masing 1 juta barel, jaringan pipa onshore dan offshore, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang mampu melayani kapal hingga 320.000 DWT guna meningkatkan efisiensi dan keamanan penerimaan minyak mentah.

Read Entire Article
Politics | | | |