Dea shepti
Sastra | 2026-01-23 20:06:03
Pernah nggak kalian merasa gugup waktu harus berbicara di depan banyak orang? Tangan dingin, suara bergetar, jantung rasanya mau loncat. Padahal cuma disuruh presentasi lima menit. Ya, di situlah sebenarnya komunikasi publik mulai diuji bukan cuma soal bicara, tapi soal bagaimana kita menyampaikan pesan agar orang lain mau mendengarkan.
Komunikasi publik bukan hal yang baru. Sejak zaman dulu, manusia sudah melakukannya. Sebelum Ilmu Komunikasi dikenal sebagai disiplin akademik seperti sekarang, konsep dasarnya sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno.
Di era ini, komunikasi lebih banyak dibahas dalam konteks filsafat, retorika, dan hubungan sosial, terutama oleh tokoh-tokoh besar seperti Aristoteles, Plato, dan Cicero. Fokus utamanya adalah gimana menyampaikan pesan secara efektif, terutama dalam konteks politik dan hukum. Meski belum ada studi komunikasi yang berdiri sendiri, era ini jadi fondasi penting buat perkembangan teori komunikasi di masa sekarang. Pada masa sekarang, influencer banyak berbicara lewat layar ponsel. Bedanya, kalau dulu orang berdiri di depan ribuan pendengar, sekarang kita bisa “berpidato” hanya dengan satu story Instagram yang dilihat ribuan orang. Atau dengan live tiktok. Dapat langsung mendapatkan respon di Media sosial. Bentuknya berubah, tapi esensinya tetap sama
Banyak orang berpikir komunikasi publik itu cuma tentang pidato atau ceramah. Padahal, jauh lebih luas dari itu. Komunikasi publik terjadi setiap kali kita menyampaikan sesuatu kepada khalayak luas entah lewat suara, tulisan, atau bahkan gesture tubuh.
Yang sering dilupakan, komunikasi publik bukan cuma tentang “apa yang kita katakan”, tapi juga “bagaimana cara kita membuat orang lain merasa”.Kata-kata bisa saja dilupakan, tapi rasa yang muncul dari pesan yang kita sampaikan akan melekat lama.
Etos, Patos, dan Logos: Tiga Kunci dari Zaman Aristoteles
Filsuf Yunani, Aristoteles, sudah lama mengatakan bahwa komunikasi yang baik harus punya tiga unsur, yaitu ethos, pathos, dan logos.
- Ethos merupakan kredibilitas. Kita dapat meyakini seseorang hanya dengan membangun kepercayaan melalui kata kata. Seperti seorang food vloger yang mendeskripsikan makanannya dengan mantap agar meyakini audiens bahwa enak.
- Pathos adalah emosi. Pesan tanpa rasa hanya akan terdengar seperti perintah kosong. Pathos seperti kita yang mencurahkan cerita kita kepada orang lain dengan penuh emosional.
- Logos adalah logika. Fakta dan data membuat pesanmu punya dasar yang kuat. Seperti sebuah argumen tentang perubahan iklim yang menyajikan data ilmiah dan grafik yang menunjukkan peningkatan suhu global adalah contoh penggunaan logos.
Ambil contoh Najwa Shihab. Saat ia berbicara tentang isu korupsi atau pendidikan di “Mata Najwa”, dia tidak hanya pintar menyusun argumen (logos), tapi juga bisa bikin penonton merasa geram atau terinspirasi (pathos).Dan tentu saja, kepercayaannya sebagai jurnalis (ethos) membuat pesan itu diterima dengan serius.
Komunikasi Publik di Era Digital
Sekarang, semua orang bisa jadi komunikator publik. Kamu mungkin tidak sadar, tapi satu tweet, satu caption, atau satu video pendek di TikTok bisa menjangkau ribuan orang dan memengaruhi cara berpikir mereka.
Masalahnya, semakin mudah bicara ke publik, semakin besar pula tanggung jawabnya. Banyak orang asal bicara tanpa berpikir dulu dampaknya.Padahal, komunikasi publik bukan cuma tentang viral, tapi tentang menyebarkan makna dan nilai yang berguna.
Bayangkan jika semua oranh menggunakan suaranya untuk hal baik seperti edukasi, motivasi, atau sekadar menyebarkan empati. Dunia mungkin tidak akan seberisik dan seseram sekarang. Bahkan dalam Dunia Maya pun akan lebih merasa aman.
Akhirnya, Ketika Komunikasi Bukan Sekadar Kata, tetapi Ketulusan
Di balik semua teori dan strategi, inti dari komunikasi publik tetap satu “Kejujuran”.Orang bisa merasakan ketika kamu berbicara dengan niat tulus atau sekadar ingin terlihat hebat. Komunikasi yang paling kuat datang dari hati, bukan dari hafalan.
Jadi, entah kamu berbicara di depan kelas, memberi presentasi di kantor, atau sekadar membuat konten di media sosial. Setiap kata yang keluar memiliki kekuatan.Kekuatan untuk membangun, menginspirasi, atau bahkan mengubah cara pandang seseorang.
Dan mungkin, di situlah seni komunikasi publik yang sesungguhnya “menyentuh banyak orang tanpa kehilangan diri sendiri”.
Daftar pustaka
Komunikasi Publik - Ilmu Komunikasi-Program studi terbaik di ...
Ethos, Logos, dan Pathos dalam Teori Retorika Aristoteles - Kompas.com
Gimana Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi? Simak di Sini!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3




































