REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Superflu tengah menjadi sorotan karena meningkatnya kasus influenza musiman yang disebabkan oleh varian virus influenza A(H3N2) subclade K di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski namanya terdengar menakutkan, istilah ini bukan nama penyakit baru atau virus baru secara resmi, melainkan istilah populer yang merujuk pada peningkatan penularan influenza yang cepat akhir-akhir ini.
Dokter spesialis paru dr Brigitta Devi Anindita Hapsari, menyampaikan bahwa superflu umumnya menimbulkan gejala yang mirip dengan flu musiman biasa. Gejala tersebut meliputi demam tinggi, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala disertai nyeri otot, serta tubuh terasa lemas. Keluhan ini biasanya muncul secara bertahap dalam beberapa hari setelah seseorang terpapar virus.
Secara klinis, dokter tidak dapat membedakan varian Superflu hanya berdasarkan gejala fisik, karena manifestasinya sangat menyerupai influenza musiman pada umumnya.
"Virus influenza menyebar utamanya melalui percikan udara (droplet) ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah, hidung, atau mulut," kata dr Brigitta dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (13/1/2026).
Kemudian untuk kelompok yang paling berisiko terinfeksi maupun mengalami komplikasi serius akibat superflu meliputi anak-anak, khususnya balita, lanjut usia (lansia), serta orang dengan kondisi medis kronis seperti penyakit jantung, paru, diabetes, atau gangguan ginjal. Selain itu, penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau gangguan imun juga memiliki risiko lebih tinggi karena tubuh tidak mampu melawan infeksi secara optimal.
"Oleh karena itu, kelompok rentan ini perlu mendapatkan perhatian khusus melalui upaya pencegahan, pemantauan kesehatan, serta penanganan medis yang lebih dini," kata dia.
Meskipun situasi saat ini masih tergolong terkendali, dr Brigita mengimbau masyarakat untuk menerapkan sejumlah langkah pencegahan penting. Imunisasi influenza tahunan tetap direkomendasikan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta, karena vaksin dapat menurunkan risiko sakit berat dan kebutuhan rawat inap.
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain dengan mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin, menjaga etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat muncul gejala flu, serta menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang kotor. Upaya pencegahan juga perlu didukung dengan istirahat yang cukup dan konsumsi gizi seimbang guna menjaga daya tahan tubuh.
"Apabila mengalami demam atau batuk, masyarakat disarankan tetap berada di rumah dan menghindari kerumunan hingga kondisi membaik, sebagai langkah sederhana namun efektif untuk menekan risiko penularan. Segera hubungi fasilitas kesehatan jika gejala makin berat, seperti sesak napas atau gejala pneumonia," kata dia.

3 hours ago
2














































