REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi sorotan setelah beredar luas di media sosial temuan seekor cicak di dalam lauk bakwan. Peristiwa tersebut terjadi pada menu MBG yang dibagikan kepada siswa TK ABA 1 Grogol, Kapanewon Paliyan.
Akun Instagram @fokusgunungkidul memposting sebuah unggahan dengan informasi temuan cicak itu pertama kali beredar di grup komunikasi wali murid sebelum akhirnya menyebar ke media sosial dan menjadi viral. Dalam postingan itu, orang tua murid melaporkan kejadian tersebut dengan narasi 'Buk, tadi di MBG menunya kan ada bakwan, terus punya wildan itu dibawa pulang yg makan ibuknyaa. Ya ampun buk didalam bakwan ada cicaknya.'
Unggahan tersebut langsung memicu beragam reaksi warganet yang mempertanyakan keamanan pangan dalam program MBG. "Lihat cicak hidup saja rasanya sudah mual, lah ini di bakwan loh, Ibu nya udah terlanjur gigit belum?," komentar salah satu warganet dilihat Republika, Senin (12/1/2026).
"Bakwan??? Masa dikasi makan tepung?? Ada gizinya?," tulis warganet lainnya.
Klarifikasi Pengelola SPPG
Menanggapi kejadian ini, Kepala SPPG Mulusan 2, Muhammad Toriq Agus Firmansyah, buka suara. Ia membenarkan adanya laporan tersebut dan pihaknya langsung berkomunikasi dengan kepala sekolah.
"Kami sudah berkomunikasi dengan kepala sekolah dan melakukan penyesuaian, kami mengikuti prosedur yang berjalan sesuai SOP dan aturan bisnis yang berlaku. Kami juga akan melakukan perbaikan, termasuk dari pihak yayasan," ujarnya.
Ia mengaku hingga kini belum diketahui secara pasti bagaimana cicak tersebut bisa masuk ke dalam makanan. "Saat produksi berlangsung pukul 01.00 dini hari, saya melakukan monitoring langsung di dapur STTD. Namun, asal muasal kejadian tersebut belum diketahui secara pasti," kata dia.
Peristiwa ini juga mendapat perhatian dari Kodim 0730/Gunungkidul. Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan, membenarkan kejadian tersebut dan memastikan tidak ada korban.
"Kejadiannya di TK ABA 1 Grogol. Anak membawa makanan ke rumah, lalu dimakan orang tuanya. Sebelum habis dimakan, ibunya merasa aneh dan langsung meludahkannya," kata Letkol Alfian.
"Setelah dicek, ternyata ada binatang di dalam makanan. Belum sampai tertelan," ujarnya.
Ia menegaskan pihak orang tua penerima manfaat hanya ingin memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi. Karena itu, laporan tersebut disampaikan melalui jalur sekolah untuk perbaikan ke depan.
Kodim Gunungkidul juga telah memfasilitasi rapat penyelesaian yang melibatkan berbagai pihak. Pertemuan dihadiri oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas, perwakilan SPPG, pihak yayasan, kepala sekolah, guru, orang tua penerima manfaat, serta perwakilan kelurahan.
"Semua pihak hadir dan masalah sudah diselesaikan," ujarnya.
Ke depan, Letkol Alfian memastikan akan memperketat pengawasan terhadap proses produksi MBG, mulai dari sortir bahan, kebersihan dapur, hingga pengecekan akhir sebelum distribusi, agar kejadian serupa tak terulang kembali. "Kami menekankan agar pemilik SPPG dan yayasan lebih ketat dalam mensortir dan mengawasi makanan. Jika ada komplain, mereka harus bergerak cepat, datang ke lokasi, menanyakan masalah, dan menyelesaikannya secara transparan," ucap dia.

3 hours ago
3














































