Keluarga menangisi jenazah Moatasem (13), remaja Gaza yang syahid akibat serangan udara Israel di Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, Rabu (21/1/2026). Menurut petugas medis di rumah sakit tersebut, remaja Palestina itu tewas akibat tembakan Israel saat mencari kayu bakar di sebelah timur kota. Setidaknya 11 orang syahid dan enam lainnya terluka dalam serangkaian serangan Israel di seluruh wilayah tersebut pada Rabu (21/1).
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-12 yang saat ini bertugas di Jalur Gaza, Palestina melaporkan infeksi saluran napas bawah dan cuaca musim dingin ekstrem menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga di tengah kolapsnya sistem kesehatan.
“Cuaca dingin di tengah kondisi tenda pengungsian yang tidak layak membuat angka infeksi saluran napas di Gaza terus meningkat. Ditambah lagi, blokade dari penjajah menyebabkan keterbatasan obat-obatan dan fasilitas medis,” ujar salah satu tim medis MER-C Nadia Rosi dalam keterangan yang diterima Republika.co.id, Jumat (23/1/2026).
Dokter Mohamad Reynaldi yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Syuhada Al Aqsa menyebutkan lebih dari 50 persen pasien yang datang ke IGD mengalami gejala infeksi saluran napas.
Sementara itu, di ruang rawat inap, dokter Ni Nyoman Indirawati Kusuma menyampaikan dua dari tiga pasien yang dirawat terdiagnosis infeksi saluran napas bawah, baik akibat virus maupun bakteri. Tidak sedikit pasien yang kemudian mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif.
Keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri. Selama genosida berlangsung, tidak ada dokter konsultan paru di Gaza, sehingga Indirawati saat ini menjadi satu-satunya dokter konsultan paru yang bertugas di wilayah tersebut.
Kondisi ini mengharuskannya membagi waktu untuk bekerja di dua rumah sakit, yakni RS Syuhada Al Aqsa dan RS An-Nasser, guna memenuhi kebutuhan layanan konsultan paru. Indirawati menambahkan keterbatasan pemeriksaan laboratorium dan ketersediaan obat-obatan sangat menyulitkan penanganan pasien, terutama yang mengalami gagal napas.
“Di sini tidak tersedia pemeriksaan rapid antigen atau PCR untuk mendeteksi virus, sehingga kami menangani pasien berdasarkan penilaian klinis. Selain itu, hanya tersedia satu jenis obat antivirus, yaitu oseltamivir. Bahkan untuk pemeriksaan sel darah putih pun harus melalui permintaan khusus karena keterbatasan reagen,” katanya.

2 hours ago
3













































