Desa di Indramayu Bangun Pos Pangan Antisipasi Stunting dan Kelaparan untuk Anak Yatim, Janda & Duda

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Langkah antisipatif untuk mengatasi masalah stunting dan kelaparan dilakukan oleh salah satu desa di Kabupaten Indramayu. Caranya, yakni dengan membangun Pos Ketahanan Pangan.

Pos Ketahanan Pangan itu dibangun oleh Pemerintah Desa Malang Semirang yang ada di Kecamatan Jatibarang. Keberadaan pos itu dilengkapi dengan lumbung pangan yang disiapkan secara terencana serta informasi untuk memastikan seluruh warga desa tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar pangan.

Program itu menyasar kelompok rentan seperti fakir miskin, lansia, janda dan duda, serta anak yatim. Seluruh bantuan pangan yang disalurkan diberikan secara gratis.

Kepala Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i, menjelaskan, pendirian Pos Ketahanan Pangan itu terinspirasi dari pemikiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menekankan pentingnya setiap desa memiliki pos ketahanan pangan secara mandiri.

“Dalam Pos Ketahanan Pangan itu ada lumbung pangan yang berisi beras, sembako, obat-obatan, hingga makanan kaleng seperti sarden. Jadi jangan sampai ada satu pun warga desa yang tidak bisa makan,” katanya, Selasa (20/1/2026).

Tak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pangan, pos itu juga berperan sebagai sarana pengaduan warga. Dengan demikian, masyarakat dapat melapor apabila mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Selain itu, Pos Ketahanan Pangan juga dilengkapi dengan peralatan pendukung mitigasi bencana alam sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat. Termasuk di antaranya alat fogging nyamuk yang disediakan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan lingkungan masyarakat.

Rusmono menyebutkan, sumber pengisian lumbung pangan berasal dari alokasi dana desa sebesar 30 persen pada tahun 2025. Dana tersebut kemudian dikelola secara produktif melalui berbagai sektor usaha desa, dengan budidaya jamur sebagai motor penggerak utama.

“Alhamdulillah, dana desa di Malang Semirang untuk ketahanan pangannya kita gunakan di budidaya jamur. Keuntungannya itu masuk ke lumbung pangan dan pengembangan,” terangnya.

Selain budidaya jamur, lanjutnya, pemerintah desa juga mengembangkan ketahanan pangan berbasis peternakan, pertanian, dan perikanan. Dengan demikian, kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Rusmono mengakui, masih terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam mengejar target produksi budidaya jamur yang ditetapkan sebesar satu kuintal per hari. Saat ini, produksi baru mencapai sekitar 40 kilogram per hari.

“Produksi jamur kita targetkan satu kuintal per hari, sekarang baru 40 kilogram per hari,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah desa juga membuka ruang kolaborasi dengan warga melalui skema kerja sama penyediaan modal. Warga yang berminat dapat menjalankan usaha budidaya jamur dengan dukungan modal dari desa, kemudian mengembalikannya dalam bentuk hasil panen. 

Read Entire Article
Politics | | | |