Di Forum ISSA, Dirut BPJS Kesehatan Dorong Digitalisasi untuk Pencegahan Penyakit tidak Menular

1 hour ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi faktor kunci dalam memperluas akses layanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular.

Hal ini disampaikan Direktur Utama BPJS Kesehatan sekaligus Ketua TC Health International Social Security Association (ISSA), Prof Ghufron Mukti, dalam ISSA Webinar: Enhancing Health Care Systems – Fighting Non-Communicable Diseases.

Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan kanker menjadi tantangan utama dalam jaminan kesehatan karena bersifat kronis, membutuhkan pembiayaan jangka panjang, serta berdampak langsung terhadap produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.

Tanpa intervensi pencegahan dan deteksi dini yang kuat, beban layanan kesehatan dan pembiayaan akan terus meningkat.

”Pada 2025, BPJS Kesehatan menggelontorkan Rp 50,2 triliun untuk biaya pelayanan penyakit kronis seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia. Angka ini meningkat setiap tahunnya,” kata Ghufron dalam keterangan Jumat (23/1/2026).

Menjawab tantangan tersebut, Ghufron mengungkapkan arah pembangunan layanan kesehatan perlu bergeser dari pendekatan kuratif menuju upaya promotif dan preventif yang lebih terstruktur dan berbasis data. Digitalisasi menjadi instrumen penting untuk mempercepat perubahan tersebut.

“Teknologi harus memperkuat kesinambungan layanan, meningkatkan kualitas keputusan klinis, serta memastikan akses yang lebih merata bagi masyarakat. Dengan dukungan digital, pencegahan dan deteksi dini dapat dilakukan lebih cepat, lebih tepat, dan menjangkau lebih banyak penduduk,” ujarnya.

Menurut Ghufron, digitalisasi juga harus berfungsi sebagai penguat sistem pelayanan kesehatan, bukan pengganti layanan tatap muka, khususnya layanan primer.

“Teknologi harus memperkuat kesinambungan layanan, meningkatkan kualitas keputusan klinis, serta memastikan akses yang lebih merata bagi masyarakat, hal ini sudah dilakukan BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Di Indonesia, inovasi tersebut diwujudkan melalui Aplikasi Mobile JKN yang menyediakan fitur Skrining Riwayat Kesehatan untuk memantau risiko penyakit tidak menular dan pemantauan kondisi kesehatan peserta JKN.

Peserta dapat mengenali faktor risiko lebih dini dan memperoleh tindak lanjut secara tepat sebelum penyakit berkembang menjadi komplikasi.

Selain itu, penguatan layanan juga dilakukan melalui inovasi telekonsultasi dan telemedisin yang terintegrasi secara interoperabilitas antar fasilitas kesehatan, peserta dan sistem informasi dalam Program JKN.

Integrasi data ini memungkinkan tenaga medis mengakses riwayat pelayanan peserta secara aman, real time, dan lintas wilayah, sehingga kesinambungan pelayanan dapat terjaga dan pemberian layanan kesehatan menjadi lebih tepat.

Ghufron menekankan, inovasi digital tidak boleh berhenti pada adopsi teknologi semata, tetapi sejalan dengan tujuannya yaitu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas layanan, efektivitas pengendalian penyakit kronis, serta kepastian atas pembiayaan kesehatan secara jangka panjang.

Salah satu contoh implementasi konkret adalah pengembangan fitur Minum Obat pada aplikasi Mobile JKN, untuk penderita TBC yang mendorong kepatuhan terapi sekaligus memudahkan pemantauan oleh fasilitas kesehatan.

”Dengan pendekatan interoperabilitas dan inovasi yang berorientasi pada manfaat, transformasi digital diharapkan mampu memperkuat koordinasi layanan, menekan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas kesehatan peserta secara berkelanjutan,” kata Ghufron.

Read Entire Article
Politics | | | |