REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank digital Islami berbasis kecerdasan buatan, Mal, mengantongi pendanaan awal sebesar 230 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,7 triliun untuk menyiapkan peluncuran bank digital Islami AI-native pertama di dunia pada 2026. Bank ini menargetkan layanan bagi hampir dua miliar Muslim serta masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan.
Pendanaan tersebut dipimpin oleh BlueFive Capital bersama investor strategis dan sejumlah kantor keluarga global. Nilai pendanaan ini menjadi salah satu yang terbesar pada tahap awal di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Mal didirikan oleh pengusaha fintech Abdallah Abu-Sheikh. Platform ini dikembangkan sejak awal dengan kecerdasan buatan sebagai inti sistem, bukan sekadar fitur tambahan. Pendekatan ini ditujukan untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang modern sekaligus sesuai dengan prinsip Syariah.
“Keuangan Islam merupakan sektor senilai 7 triliun dolar AS dan belum memiliki satu pun pemimpin bank global. Melalui Mal, kami ingin menutup kesenjangan tersebut dan menghadirkan solusi fintech mutakhir bagi setiap komunitas yang belum terlayani di seluruh dunia,” ujar Abdallah, dikutip dari Middle East Economy, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan pendanaan tersebut menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap misi perusahaan. “Pendanaan ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap misi kami untuk menghadirkan pengalaman digital generasi baru yang menempatkan kecerdasan, nilai, dan aksesibilitas sebagai inti layanan,” ungkapnya.
Dalam pernyataan terpisah, Abdallah menjelaskan persoalan yang kerap dihadapi masyarakat Muslim di berbagai negara. “Di banyak pasar, masyarakat dipaksa memilih antara layanan keuangan digital yang canggih tetapi tidak mencerminkan nilai mereka, atau lembaga keuangan yang sesuai dengan nilai tersebut tetapi tertinggal secara teknologi.
“Mal hadir untuk menghapus pilihan yang serba terbatas itu melalui satu platform yang menawarkan pengalaman digital global berbasis transparansi, etika, dan kepercayaan,” ujarnya.
Dana hasil pendanaan akan digunakan untuk mempercepat pengembangan produk, melengkapi proses perizinan, serta menyiapkan strategi masuk pasar. Mal dijadwalkan meluncur pada 2026 dan dikembangkan sebagai platform mobile-first.
Berbasis di Abu Dhabi, Mal akan diluncurkan secara bertahap, dimulai dari Uni Emirat Arab sebelum diperluas ke sejumlah pasar utama di Timur Tengah dan Asia. Kawasan ini dinilai memiliki kebutuhan tinggi terhadap layanan keuangan digital yang sejalan dengan nilai dan prinsip Syariah.
Dari sisi manajemen, Mal diperkuat oleh tim yang memiliki pengalaman di bank digital global seperti Revolut dan Nubank. Pengalaman tersebut diharapkan mendukung pengembangan layanan keuangan digital Islami yang lebih modern dan inklusif.
Meski telah mengantongi pendanaan besar, Mal saat ini masih berada pada tahap pra-peluncuran. Perusahaan belum memiliki izin perbankan atau jasa keuangan dan belum menjalankan aktivitas keuangan yang diatur regulator. Mal masih memproses perolehan izin di sejumlah negara sebagai bagian dari persiapan operasional.

2 hours ago
6














































