Obat kumur (ilustrasi). Dokter gigi yang berbasis di San Francisco, dr Mark Burhenne, mendesak masyarakat untuk mempertimbangkan kembali penggunaan obat kumur antiseptik.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama puluhan tahun, berkumur dengan cairan pembersih mulut yang memberikan sensasi dingin dan pedas dianggap sebagai standar emas kebersihan rongga mulut. Namun ahli kedokteran gigi asal California, Amerika Serikat, baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras yang cukup mengejutkan yaitu ritual pagi tersebut mungkin lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat, terutama bagi kesehatan jantung dan metabolisme.
Dokter gigi yang berbasis di San Francisco, dr Mark Burhenne, mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan kembali penggunaan obat kumur antiseptik. Nasihatnya sangat lugas dan tanpa basa-basi.
"Di usia 30-an, ahli kardiologi akan menyuruh Anda 'membuang' obat kumur Anda ke toilet. Sangat penting bagi Anda untuk menanggapi saran ini dengan serius," ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Selasa (13/1/2026).
Alasan di balik pernyataan drastis ini terletak pada ekosistem halus di dalam mulut yang sering kali kita abaikan. Inti dari peringatan dr Burhenne berkaitan erat dengan koneksi antara bakteri mulut dan produksi oksida nitrat (nitric oxide). Selama ini kita diajarkan untuk memandang semua bakteri sebagai kuman yang harus dibasmi, padahal lidah manusia menampung mikroba bermanfaat yang memainkan peran kritis dalam kesehatan kardiovaskular.
Bakteri spesifik ini, ujar dr Burhenne, bertanggung jawab memproduksi sekitar 50 persen oksida nitrat dalam tubuh. "Tidak ada bakteri sama dengan tidak ada oksida nitrat, yang artinya tekanan darah Anda akan melonjak tinggi. Jika kita mengabaikan mulut, itu tidak hanya membahayakan jantung tetapi juga seluruh tubuh," ujarnya.
Ketika obat kumur antiseptik yang kuat digunakan untuk "membantai" mikrobioma oral, cairan tersebut tidak hanya membunuh bakteri penyebab bau mulut, tetapi juga melenyapkan pabrik biologis yang membantu mengatur aliran darah dan kesehatan pembuluh darah. Dampak jangka panjangnya pun tidak main-main. Untuk memperkuat argumennya, dr Burhenne mengutip sebuah studi selama tiga tahun yang menyoroti bahaya sistemik dari penggunaan obat kumur yang berlebihan.
Data menunjukkan bahwa kebiasaan berkumur dua kali sehari dikaitkan dengan risiko diabetes 49 persen lebih tinggi dan hampir dua kali lipat risiko tekanan darah tinggi (hipertensi). "Saya seorang dokter gigi dan saya tidak akan pernah menggunakan obat kumur dua kali sehari," kata dr Burhenne. Ia menjelaskan bahwa oksida nitrat adalah molekul vital yang menjaga pembuluh darah tetap fleksibel.

2 hours ago
4














































