Ekspor Beras 2026: Wacana atau Realitas?

3 hours ago 2

Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbincangan ekspor beras, sudah menggema sejak beberapa waktu lalu. Begitu pun dengan berita Pemerintah Malaysia yang merencanakan untuk impor beras dari Indonesia.

Semua ini wajar, karena kalau kebutuhan beras dalam negeri telah tercukupi, salah satu solusi agar beras tidak menumpuk di gudang-gudang Bulog, ya jawaban cerdasnya adalah ekspor.

Seperti banyak dirilis media sosial, Indonesia akan mengekspor beras tahun ini. Hal ini disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menjadi penguji Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor.

Amran menyebut stok cadangan beras dalam negeri mencapai 3,25 juta ton.

Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2026 yang diolah Badan Pangan Nasional (Bapanas), tercatat stok beras untuk awal 2026 sangat tinggi dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Terlebih sumber stok beras sepanjang 2025 tidak ada yang berasal dari luar negeri. Stok awal 2026 ada di angka 12,529 juta ton. Ini sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton.

Selain itu, stok beras nasional tersebar di berbagai pemangku kepentingan dunia perberasan seperti di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, dan horeka (hotel, restoran, katering).

Torehan 12,529 juta ton stok beras di awal 2026 ini meningkat pesat dalam 2 tahun terakhir. Tercatat ada peningkatan hingga 203,05 persen terhadap stok awal 2024 yang kala itu berada di angka 4,134 juta ton.

Sementara terhadap stok awal 2025 telah meningkat 49,12 persen karena stok awal 2025 berada di 8,402 juta ton. Berdasarkan gambaran data di atas, sebetulnya wajar disampaikan, ekspor beras 2026 bukan lagi wacana, tapi realitas!

Pemerintah Indonesia memastikan akan menghentikan impor dan mulai melakukan ekspor beras dan jagung pada 2026. Ini berkat proyeksi produksi beras nasional yang mencapai 34,7 juta ton, sehingga stok akhir tahun bisa mencapai 16,18 juta ton. Dengan demikian, petani beras bisa melakukan ekspor sekitar 71 ton pada tahun ini.

Seiring dengan itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menegaskan kebijakan ini bertujuan melindungi produsen pangan dalam negeri. Jadi, kita bisa berharap petani kita makin sejahtera.

Langkah mewujudkan ekspor beras, tidaklah segampang kita membolak-balik telapak tangan. Seabrek hambatan dan tantangan membentang dihadapan kita, yang erat kaitannya dengan ekspor beras 2026.

Di antaranya, pertama, persaingan global. Persaingan di pasar beras global sangat ketat, terutama dengan negara-negara produsen besar seperti Thailand dan Vietnam yang memiliki volume produksi lebih besar dan harga lebih kompetitif.

Kedua, fluktuasi produksi. Ketergantungan pada kondisi cuaca membuat produksi beras Indonesia sering tidak stabil, sehingga pasokan beras untuk ekspor bisa terbatas.

Ketiga, biaya logistik tinggi. Biaya transportasi dan infrastruktur yang kurang memadai dapat meningkatkan harga beras di pasar internasional, membuatnya kurang kompetitif.

Keempat, regulasi dan standar. Perbedaan regulasi dan standar di negara tujuan ekspor bisa menjadi hambatan besar bagi eksportir.

Kelima, isu lingkungan dan keberlanjutan. Industri beras harus memenuhi standar ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan untuk diterima di pasar global.

Keenam, perubahan harga komoditas. Harga beras internasional yang tidak stabil dapat mempengaruhi pendapatan eksportir.

Ketujuh, kurangnya promosi dan pemasaran. Kurangnya promosi dan pemasaran efektif dapat membuat produk beras Indonesia kurang dikenal di pasar internasional.

Namun, dengan inovasi, peningkatan kualitas produk, dan dukungan pemerintah, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor berasnya.

Catatan kritisnya adalah mampukah kebijakan ekspor beras mendorong percepatan peningkatan kesejahteraan para petani padi,terutama petani yang berlahan sempit ?

Ekspor beras bisa sangat menguntungkan secara ekonomi, terutama jika dilakukan dengan strategi yang tepat. Beberapa keuntungan ekonomi dari ekspor beras, pertama, peningkatan pendapatan negara.

Ekspor beras dapat meningkatkan devisa negara dan pendapatan petani lokal.

Kedua, peningkatan kesejahteraan petani. Dengan harga yang kompetitif, petani bisa mendapatkan pendapatan lebih baik, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka.

Ketiga, penciptaan lapangan kerja. Ekspor beras dapat menciptakan lapangan kerja di sektor pertanian, pengolahan, dan logistik.

Keempat, peningkatan produktivitas. Untuk memenuhi permintaan ekspor, petani mungkin akan meningkatkan produktivitas dan kualitas beras, sehingga meningkatkan efisiensi dan daya saing menjadi sangat mutlak untuk diwujudkan. Peran nyata para penyuluh pertanian pun perlu lebih dioptimalkan.

Hanya, perlu diingat ekspor beras juga memiliki risiko, seperti fluktuasi harga internasional dan persaingan global. Karena itu, pemerintah perlu melakukan strategi yang tepat, seperti meningkatkan kualitas produk, diversifikasi pasar, dan meningkatkan infrastruktur logistik.

Dalam konteks Indonesia, ekspor beras 2026 diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Read Entire Article
Politics | | | |