REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film dokumenter The Voice of Hind Rajab menjadi salah satu karya paling mengguncang dalam daftar nominasi Oscar tahun ini. Film yang mengangkat rekaman suara terakhir Hind Rajab, bocah Palestina yang meninggal karena ditembaki militer Israel, masuk nominasi Best International Feature Film.
Disutradarai oleh Kaouther Ben Hania, film ini menyoroti detik-detik terakhir Hind rekaman panggilan teleponnya dengan petugas Bulan Sabit Merah yang berupaya menyelamatkannya. Alih-alih memberi jarak emosional, film ini membiarkan suara-suara tersebut berdiri sendiri, memaksa penonton menghadapi realitas yang terjadi.
Dalam wawancara terbaru, Ben Hania mengatakan nominasi Oscar ini bukanlah bentuk validasi pribadi, melainkan sarana agar suara Hind semakin terdengar luas. "Ya, ini sebuah kehormatan dan saya bersyukur. Saya bersyukur anggota Academy mendengarkan suara Hind Rajab. Kita sering memandang sinema sebagai hiburan atau pelarian, tetapi film ini adalah kebalikannya," kata Ben Hanig seperti dilansir laman Collider, Ahad (25/1/2026).
Nominasi ini menjadi pengakuan Academy Awards ketiga bagi Ben Hania, setelah The Man Who Sold His Skin dan Four' Daughters. Namun ia menegaskan fokus utama film ini tetap pada korban, bukan pencapaian pembuatnya.
Ben Hania mengungkapkan ia pun menerima pesan dari ibu Hind, Wissam Rajab, setelah pengumuman nominasi. "Dia mengatakan selamat untuk kita semua. Saya sangat bahagia dan bersyukur. Ini membuka pintu bagi lebih banyak orang untuk mendengarkan suara gadis kecil ini," kata dia.
Menurut Ben Hania, film ini juga menjadi pengingat bagi anak-anak lain yang mengalami nasib serupa tetapi tidak pernah terdokumentasikan. "Hind direkam. Dan melalui suaranya, kita bisa memikirkan semua anak yang mengalami momen terakhir mereka tanpa pernah terekam," kata dia.
la menambahkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza masih berlangsung, dengan banyak anak berada dalam kondisi yang sama seperti Hind ketika ia meminta pertolongan. Ben Hania berharap film ini dapat mendorong akuntabilitas atas kejahatan perang yang terjadi.
"Kita tidak bisa hidup di dunia di mana siapa yang memiliki senjata terbesar berkuasa. Itu bukan dunia yang layak bagi anak-anak kita," kata dia.
Ben Hania juga menyoroti nasib anak-anak yatim, anak-anak yang mengalami amputasi, serta mereka yang mash hidup namun membutuhkan bantuan dan perawatan. la menyebut tim film telah menandatangani surat terbuka untuk mendorong pembukaan koridor kemanusiaan bagi anak-anak tersebut.
"Film ini saya buat sebagai panggilan untuk bertindak. Bukan hanya untuk ditonton dan ditangisi, lalu dilupakan," kata Ben Hania.
Selain Hind, film ini juga menyoroti para petugas Bulan Sabit Merah yang berusaha menyelamatkannya. Ben Hania berharap pengakuan ini bisa membuat dunia lebih mendengar perjuangan para petugas kemanusiaan tersebut.

3 hours ago
2













































