Ika Suhesti, S.I.Kom
Agama | 2025-02-25 20:44:33
Isreal Ingkar Janji, Bukti Gencatan Senjata Bukan Solusi Di tengah upaya gencatan senjata, pernyataan yang memicu kemarahan global justru datang dari seorang kepala negara. Rencana Donald Trump mencaplok Gaza menimbulkan beragam reaksi. Negara-negara Arab mulai melakukan pertemuan untuk melawan presiden AS tersebut. Pemimpin Arab Saudi, Mesir, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Bahrain, menghadiri pertemuan yang diselenggarakan di Arab Saudi. (CNBC 22 Februari 2025) Mesir dan negara-negara Arab mengusulkan untuk membangun mekanisme pemerintahan di jalur Gaza tanpa melibatkan Hamas.
(BBC News 20 Februari 2025) Sebuah ironi jika hal tersebut terjadi, mengingat selama ini, Hamas telah berjuang mempertahankan Gaza dari masifnya serangan tentara Zionis. Bahkan ketika dunia diam. Kala polemik tentang pernyataan Trump dan aksi perlawanan negara-negara Arab masih bergejolak, pelanggaran kesepakatan gencatan senjata dilakukan oleh Israel. Di kota Rafah, tentara Israel membunuh Hanaa Tawfiq Sulaeman Al-Ghouti.
Tank-tank Zionis terus menembakkan peluru artileri di dekat Abasan Al-Kabira sebelah timur Khan Younis di Jalur Gaza Selatan. (Republika, 22 Februari 2025) Bukti nyata jika gencatan senjata adalah isapan jempol semata. Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan pasukan Netanyahu seolah-olah “direstui” karena nyaris tak ada reaksi nyata dari para pemimpin dunia. Meski ada yang bersuara, bak suara sumbang. Bahkan sidang PBB tak berdaya menghadapi hak veto Amerika.
Di saat negeri-negeri muslim lain bersiap menyambut Ramadan dengan suka cita, Gaza masih dirundung nestapa. Solusi-solusi parsial belum mampu mengeluarkan Gaza dari keterpurukan. Palestina butuh solusi fundamental yang akan menuntaskan seluruh permasalahan di tanah Al Quds. Seperti pembebasan yang dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khattab yang mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai pemimpin pasukan yang akhirnya berhasil membebaskan Al Quds.
“Selama Palestina di bawah penerapan hukum-hukum Islam, ketiga pemeluk agama: Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan dalam kedamaian dan kesejahteraan”, hal tersebut ditulis oleh Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul “Holly War: The Crusades and Their Impact on Todays World. Wallahu’alam bishowab.
Foto: middleeastimage
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.