Gobel Minta Jepang Bantu Indonesia Timur

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Indonesia-Jepang, Rachmat Gobel, meminta agar Jepang memberikan fokus untuk membantu masyarakat Indonesia timur, yang tertinggal dibandingkan dengan Indonesia barat. “Khususnya membantu pengadaan air bersih, pelatihan petani muda, dan pertukaran guru,” katanya, Selasa, (13/1/2026).

Hal itu ia sampaikan saat memimpin pertemuan anggota parlemen dari Indonesia dan dari Jepang di kompleks DPR RI. GKSB adalah bagian dari Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DRI RI. Sedangkan anggota parlemen dari Jepang tergabung dalam House of Councillors of Japan Official Development Asistance (ODA).

ODA adalah program bantuan Pembangunan dari Jepang untuk 190 negara-negara berkembang. Indonesia adalah penerima bantuan ODA terbesar, yaitu 11,3 persen. Indonesia mulai menerima bantuan ODA sejak 1968. Hingga 2016 saja, nilai bantuan ODA mencapai 49,5 miliar dolar AS.

Anggota parlemen dari Jepang dipimpin Ishida Masahiro. Sedangkan anggotanya adalah Adachi Masahi, Koga Chikage, dan Ueda Kiyoshi. Hadir pula staf dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, yaitu Atase Politik Tanaka Motoyasu dan Kumakura Aya.

Indonesia timur mengalami ketertinggalan jauh dibandingkan dengan Indonesia barat. Kontribusi PDB Indonesia timur hanya mencapai 21 persen, sedangkan Indonesia barat mencapai 79 persen. Dari 10 provinsi termiskin di Indonesia, 9 berasal dari Indonesia timur. Dari 10 provinsi dengan IPM terendah, semuanya berasal dari Indonesia timur. Demikian pula dari 10 provinsi dengan Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan terburuk, seluruhnya dari Indonesia timur.

Gobel mengatakan, pengadaan air bersih membutuhkan biaya yang sangat besar. Di Indonesia timur, katanya, banyak lokasi yang tak memiliki air bersih yang mencukupi. “Agak sulit dan butuh biaya besar. Hal ini kemudian akan berdampak terhadap Kesehatan dan kondisi stunting,” katanya.

Selain itu, kata Gobel, Indonesia timur juga mengalami keterbatasan dalam pengadaan pangan. Bisa karena aspek biaya logistic maupun masalah budaya pertanian. “Karena itu perlu pelatihan bagi petani muda untuk belajar bertani di Jepang yang dikenal maju secara teknik dan juga dari sisi teknologinya. Ini penting untuk meningkatkan produksi pertanian,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya di Gorontalo, ia pernah bekerja sama dengan Jepang dalam program REDD+ (Reduction Emissions from Deforestation and Forest Degradation) dengan menanam kakao dan bakau. “Hasilnya bagus. Kakao diekspor ke Jepang. Sekarang juga sedang ada program menanam 5 juta pohon kelapa,” katanya.

Program di bidang pertanian dan perkebunan ini, kata Gobel, selain menjadi bagian dari program mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim, juga merupakan bagian dari upaya mengatasi krisis pangan dunia. Berdasarkan data Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan, katanya, Indonesia timur berada dalam situasi yang buruk. “Karena itu program ini menjadi sangat penting untuk menjadi fokus perhatian kerja sama Indonesia-Jepang,” katanya.

Untuk mengatasi ketimpangan wilayah timur terhadap wilayah barat Indonesia, kata Gobel, juga perlu ada pertukaran guru antara guru dari Indonesia timur dengan guru dari Jepang. Dengan demikian, katanya, kualitas sumberdaya manusia di wilayah timur Indonesia akan mengalami peningkatan. “Ini bisa mengejar ketertinggalan mereka dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya,” katanya.

sumber : Rilis

Read Entire Article
Politics | | | |