Guru Besar FISIP UMJ Bahas Pengembangan Soft Power Menuju Indonesia Emas 2045

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Prof. Drs. Sri Yunanto, M.Si., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ), Selasa (13/1/2025). Sri Yunanto menjadi guru besar bidang kepakaran Politik dan Humaniora berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 43628/M/KPT.KP/2025.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul Dari Variabel Nilai ke Variabel Kebijakan: Pengembangan Soft Power Menuju Indonesia Emas 2045, Sri Yunanto menetapkan sejumlah indikator utama untuk mewujudkan Indonesia Emas. Ia menyebut tingkat kemiskinan harus ditekan hingga nol persen, pendapatan per kapita berada pada kisaran 23.000 dolar AS hingga 30.300 dolar AS per tahun.

Indonesia juga harus memiliki pengaruh global dengan menempati peringkat 15 besar Global Power Index (GPI). Selain itu, daya saing sumber daya manusia ditargetkan mencapai skor 0,73 dan pengurangan emisi gas rumah kaca berada pada angka 50,50 persen.

“Prediksi ini bukan sekadar mimpi, tetapi didukung proyeksi Indonesia pada 2045 akan menjadi salah satu dari tujuh negara dengan jumlah penduduk terbesar bersama China, Amerika Serikat, India, Jerman, Nepal, dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan arah kebijakan pemerintah harus sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan didukung secara kolektif oleh masyarakat. Menurutnya, kesiapan bangsa dapat dibangun melalui penguatan soft power, yakni kemampuan Indonesia menjadi bangsa yang memiliki daya tarik dan pengaruh di tingkat global.

“Bangsa yang mampu diajak bekerja sama adalah bangsa yang dapat meyakinkan negara lain tanpa mengandalkan kekuatan militer atau paksaan. Daya tarik tersebut dibangun melalui kekuatan ekonomi yang baik, iklim investasi yang kondusif, serta regulasi yang tertata, tidak tumpang tindih, dan saling mendukung," kata dia.

Sri Yunanto juga menyoroti berbagai tantangan internal yang masih dihadapi Indonesia dalam memperkuat daya saing global. Menurutnya, masalah terbesar bangsa Indonesia adalah tata kelola yang sejak lama belum tertata dengan baik.

"Regulasi yang saling tumpang tindih, praktik korupsi dan pungutan liar, hingga birokrasi yang belum akuntabel dan cepat dalam melayani masyarakat, masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi,” kata Sri Yunanto.

Sri Yunanto menekankan pentingnya implementasi rencana strategis yang ditopang oleh kepemimpinan politik yang kuat. Ia menilai para pemimpin politik harus mampu menerjemahkan visi dan janji politik ke dalam kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

“Kepemimpinan politik menjadi kunci agar kebijakan dapat diimplementasikan secara strategis dan benar-benar mengarah pada pencapaian Indonesia Emas,” kata Sri Yunanto.

Read Entire Article
Politics | | | |