Ibn Sina, Konseling Holistik, dan Masa Depan Kesehatan Mental

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesehatan mental kini menjadi salah satu isu paling serius dalam peradaban modern. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi digital, manusia justru menghadapi kegelisahan baru: kecemasan kronis, depresi, krisis makna, hingga kelelahan batin yang meluas lintas usia dan kelas sosial. Paradoks ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa di era yang serba maju, manusia justru semakin rapuh secara psikologis?

Dua dekade terakhir menunjukkan gejala yang kontras. Ilmu psikologi, psikiatri, dan teknologi kesehatan berkembang sangat pesat, namun angka gangguan kecemasan, depresi, dan kelelahan eksistensial terus meningkat.

Fenomena ini mengisyaratkan satu hal penting: pendekatan kesehatan mental modern yang terlalu teknis dan fragmentaris belum sepenuhnya menyentuh manusia secara utuh. Konseling tidak cukup hanya mengelola gejala, tetapi perlu menyapa manusia sebagai makhluk jasmani, psikologis, sosial, sekaligus spiritual.

Di titik inilah pemikiran klasik Ibn Sina (Avicenna) menemukan relevansi barunya. Jauh sebelum istilah biopsikososial dikenal dalam psikologi Barat, Ibn Sina telah menawarkan paradigma yang lebih lengkap: biopsikososial-spiritual. Ia memandang manusia sebagai kesatuan tubuh, jiwa, relasi sosial, dan ruh yang terhubung dengan makna transendental. Peluncuran hasil penelitian Pengembangan e-Holistik Konseling oleh Tim Peneliti Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor di Istanbul for Research and Education Center (ISAR), Turkiye, pada 17 Desember 2025 menjadi momentum penting untuk membaca ulang warisan intelektual Ibn Sina dalam konteks kekinian. Turki, negeri yang secara historis menjadi jembatan Timur dan Barat, seakan menegaskan bahwa masa depan konseling justru bertumpu pada integrasi nilai klasik dan teknologi modern.

Ibn Sina bukan sekadar dokter atau filsuf. Ia adalah pemikir multidisipliner yang memahami manusia secara menyeluruh. Dalam karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Tibb dan Kitab al-Nafs, Ibn Sina menolak pandangan yang mereduksi manusia menjadi tubuh biologis semata. Menurutnya, manusia terdiri dari empat unsur yang saling terhubung: jasad (al-jism), jiwa (al-nafs), akal (al-‘aql), dan ruh (al-rūḥ). Kesehatan, dalam pandangan ini, adalah kondisi seimbang dari seluruh unsur tersebut. Penyakit, baik fisik maupun psikis, muncul ketika keseimbangan itu terganggu.

Dalam dimensi biologis, Ibn Sina dikenal dengan teori mizāj dan empat cairan tubuh. Namun yang sering luput dibahas adalah kesadarannya bahwa kondisi fisik sangat dipengaruhi oleh keadaan jiwa. Ia mencatat bagaimana kesedihan mendalam, ketakutan, dan tekanan batin dapat memicu penyakit fisik. Pandangan ini sejalan dengan temuan psikologi kesehatan modern tentang gangguan psikosomatik. Dalam praktik konseling masa kini, pendekatan Ibn Sina mengingatkan bahwa keluhan fisik seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, atau nyeri tanpa sebab medis yang jelas sering kali berakar pada konflik batin yang belum terselesaikan. Model e-Holistik Konseling memanfaatkan teknologi digital untuk mengintegrasikan asesmen fisik, gaya hidup, dan kebiasaan harian klien sebagai bagian dari proses konseling yang utuh.

Pada dimensi psikologis, Ibn Sina membagi jiwa manusia ke dalam tiga tingkatan: vegetatif, hewani, dan rasional. Gangguan psikologis muncul ketika emosi dan dorongan instingtif tidak berada di bawah kendali akal. Yang menarik, Ibn Sina tidak menghakimi gangguan jiwa sebagai kelemahan moral semata. Ia mengenali kondisi seperti melankolia, kecemasan, dan kesedihan patologis dengan sensitivitas klinis yang melampaui zamannya. Dalam konteks kekinian, ketika manusia hidup di bawah tekanan informasi, krisis identitas, dan tuntutan sosial yang terus-menerus, pemikiran Ibn Sina menegaskan pentingnya konseling yang membantu individu mengenali emosi secara jujur, menata ulang cara berpikir, dan menguatkan akal sebagai penuntun kehidupan.

Dimensi sosial juga mendapat perhatian serius dalam pemikiran Ibn Sina. Ia memahami bahwa manusia tidak hidup dalam ruang hampa. Konflik keluarga, keterasingan sosial, dan lingkungan yang tidak sehat dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang. Pendekatan konseling modern sering kali terlalu berfokus pada individu, seolah-olah masalah sepenuhnya bersumber dari dalam diri klien. Paradigma biopsikososial-spiritual Ibn Sina mengingatkan bahwa penyembuhan juga membutuhkan perbaikan relasi. Melalui e-Holistik Konseling, dimensi sosial ini diakomodasi dengan pendekatan sistemik yang mempertimbangkan latar keluarga, budaya, dan komunitas klien. Teknologi digital memungkinkan konseling lintas ruang dan waktu, membuka akses dukungan sosial yang lebih luas tanpa menghilangkan sentuhan kemanusiaan.

Namun, inti terdalam pemikiran Ibn Sina terletak pada dimensi spiritual. Ia meyakini bahwa kegelisahan terdalam manusia sering kali bersumber dari keterputusan dengan makna hidup dan Tuhan. Dalam kondisi ini, terapi psikologis tanpa sentuhan spiritual akan terasa dangkal. Aktivitas seperti tafakkur, tazkiyat al-nafs, syukur, tawakal, sabar, dan ibadah dipandang sebagai terapi ruhani yang menenangkan jiwa. Dalam e-Holistik Konseling, dimensi spiritual ini tidak hadir sebagai dogma, melainkan sebagai ruang pencarian makna. Klien dibantu merefleksikan nilai hidup, tujuan keberadaan, dan hubungan transendentalnya, sebuah titik temu antara warisan Ibn Sina dan konseling modern berbasis makna.

Peluncuran e-Holistik Konseling oleh Tim UNIDA Gontor di ISAR Turkiye, yang dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Jarman Arroisi bersama Dr. Usmanul Khakim, Widya Kurniawan, M.Kom, dan asisten riset Muhammad Alif Rahmadi, M.Ag, menjadi simbol kembalinya pendekatan holistik dalam dunia konseling global. Apresiasi dan masukan strategis dari peneliti senior ISAR, Prof. Dr. Hakan, semakin menegaskan pentingnya penguatan metodologi dan layanan agar dapat diterima secara luas di tingkat internasional.

Kontribusi utama Ibn Sina bagi konseling modern terletak pada paradigma. Ia menolak reduksionisme dan mengembalikan manusia pada keutuhannya. Di tengah kritik terhadap konseling modern yang terlalu teknis dan individualistik, pemikiran Ibn Sina menawarkan arah baru: konseling sebagai proses pemanusiaan, pemaknaan, dan penyelarasan hidup. Bagi dunia Muslim, pendekatan ini sekaligus menjadi jembatan antara ilmu modern dan tradisi intelektual Islam.

Hampir seribu tahun setelah wafatnya, Ibn Sina justru semakin relevan di era digital. Teori biopsikososial-spiritual yang ia tawarkan menemukan momentumnya dalam pengembangan e-Holistik Konseling masa kini. Di tengah krisis kesehatan mental global, warisan Ibn Sina bukan sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi etis dan ilmiah bagi masa depan konseling yang lebih utuh, manusiawi, dan bermakna. Wallahu a‘lam bisshawab.

Read Entire Article
Politics | | | |