IHSG Hijau, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.748 Hari Ini

6 hours ago 6

loading...

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Kamis (20/8), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Kamis, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,68% ke level 6.501. Rupiah menguat 92 poin atau 0,52% menjadi Rp17.748 per dolar AS di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian terkait konflik dan ketegangan di Selat Hormuz.

"Trump tidak merinci bentuk pembatasan baru tersebut, namun ia mendesak sekutu AS untuk turut serta dalam langkah ini," kata Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: IHSG Merana, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.840 per Dolar AS

Ibrahim mengatakan pasar masih mencermati potensi kebuntuan berkepanjangan di Selat Hormuz setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan terhadap Iran. Trump juga memperingatkan negara lain agar tidak melakukan transaksi dengan Iran, sementara ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong sejumlah pemilik kapal menghindari perairan tersebut.

Dari pasar keuangan AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps), sedangkan tenor 30 tahun turun hampir 9 bps setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan volume pembelian kembali atau buyback surat berharga pemerintah jangka panjang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendukung likuiditas dan mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang.

Investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Juli yang menunjukkan sejumlah pembuat kebijakan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak mereda. The Fed sebelumnya mempertahankan target suku bunga dana federal pada kisaran 3,5–3,75%.

Dari dalam negeri, pasar merespons rencana pemerintah mengendalikan subsidi BBM pada 2027, termasuk melalui pemangkasan kuota BBM bersubsidi. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak terhadap akses masyarakat terhadap BBM subsidi, terutama Pertalite, seiring rencana pengurangan kuota hingga 58,5%.

Ibrahim mengingatkan kebijakan pengendalian subsidi perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang sensitif terhadap perubahan biaya transportasi. “Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi,” ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |