REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Industri sawit memiliki peranan strategis dalam perekonomian Indonesia dan menjadi tumpuan sumber pendapatan bagi 16,5 juta kepala keluarga, mulai dari petani hingga karyawan perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit.
Hal itu dikatakan Ketua Umum GAPKI Eddy Martono pada Seminar Nasional dengan Tema “Menakar Industri Sawit dari Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan” yang diselenggarakan Pusat Studi Lahan dan Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/1/2026).
Seminar nasional ini menghadirkan pembicara-pembicara nasional yaitu Prof.Dr.Ir. Budi Mulyanto, MSc., Prof.Dr.Ir. Bustanul Arifin, M.Sc., Prof.Dr.Ir. Yanto Santosa, M.Sc., dan Prof.Dr.Ir.Zulkarnain, MS, sebagai pembicara. Sedangkan pembahas terdiri dari Prof.Dr.Ir. M. Nurcholis, M.Agr. dan Dr. Eko Murdiyanto, MSi. Moderator oleh Prof.Dr.Ir. Susila Herlambang, MSi. Adapun para peserta seminar terdiri dari praktisi sawit, dosen, mahasiswa, instansi, dan umum.
“Industri kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada devisa ekspor pada 2022 mencapai USD39 miliar, yang menjadikan neraca perdagangan Indonesia surplus USD56 miliar,” ujar Eddy Martono.
Eddy Martono berharap industri sawit terus tumbuh dan berperan strategis dalam perekonomian nasional. “Kami juga berharap industri ini menjadi bagian solusi ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, dan keberlanjutan lingkungan yang lebih baik,” katanya.
Kepala Pusat Studi Sawit Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Budi Mulyanto, MSc menekankan peran aspek lahan dalam pembangunan kelapa sawit. Transformasi lahan hutan menjadi lahan budidaya makin meningkat sebagai konsekuensi perkembangan jumlah penduduk dan peradaban.
Sawit terbukti sangat adaptif pada berbagai kondisi tanah di Indonesia yang luasnya terbesar di dunia (> 16,8 juta ha) dan menghasilkan sekitar 160 produk turunan sawit. Permasalahan lahan yang terjadi saat ini, menurutnya, adalah penggunaan lahan kawasan hutan yang tidak berhutan, sehingga menimbulkan klaim kawasan hutan berdasarkan Peta Kawasan Hutan yang bermasalah.
Karena itu, menurutnya, butuh solusi dalam legalitas lahan, yang mengedepankan prinsip kepastian, kemanfaatan dan keadilan. Untuk itu perlu kebijakan afirmatif, pendetailan batas kawasan, penguatan hak-hak masyarakat, dan pengelolaan perkebunan sawit secara regeneratif.
Sementara Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc. mengatakan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar (48%) di dunia, di mana pada 2025 mencapai 17,1 juta ha dan produksi CPO 49,4 juta ton. “Ekonomi sawit didorong menuju industri berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk itu, kata Bustanul, perlu sinergi berupa hilirisasi produk dan penguatan hulu kebun. Keberhasilan hilirisasi terukur oleh sinergi, integrasi dan penguatan hulu. Juga perlu konsistensi kebijakan budidaya dan peningkatan nilai tambah.
“Peta jalan hilirisasi perlu mengarah pada pengembangan industri pangan fungsional, berdampak Kesehatan dan vitalitas.”
Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB University Prof. Dr. Ir. H. Yanto Santosa, DEA, IPU mengatakan bahwa laju deforestasi sudah berlangsung jauh lebih luas dan tidak terkait secara signifikan pada pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dari data global menunjukkan bahwa pembukaan lahan sawit di dunia hanya berkontribusi sekitar 2,5% terhadap deforestasi global.
Dalam kajian perbandingan keanekaragamanhayati, kebun kelapa sawit merupakan habitat dari berbagai taksa satwa liar (mamalia, burung, amfibi dan reptil). Perubahan tutupan dari hutan sekunder menjadi kebun sawit cenderung menurunkan keragaman jenis mamalia, namun dari taksa lain mengalami peningkatan.
Sedangkan perubahan tutupan dari bukan hutan menjadi kelapa sawit, kata Yanto Santosa, cenderung meningkatkan keanekaragaman jenis hampir semua taksa. Dari segi dampak sawit pada kekeringan, terbukti evapotranspirasi tanaman kelapa sawit setara dengan tanaman karet kisaran 4 mm/hari.
Adapun penyerapan air tanah oleh tanaman kelapa sawit tidak mungkin dilakukan melebihi kedalaman solum tanah di zona perakaran. “Dari segi serapan CO2, tanaman kelapa sawit terbukti memiliki kemampuan penyerapan CO2 yang tinggi dan paling efisien dalam pemanfaatan radiasi matahari dibandingkan tanaman komoditas kehutanan lain,” kata Yanto Santosa.
Prof. Dr. Ir. Zulkarnain, MS, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Mulawarman, mengatakan kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati dengan kontribusi terbesar terhadap pasokan minyak nabati dunia, dengan produktivitas jauh melampaui komoditas sejenis. Sawit juga menjadi tulang punggung industri pangan, energi dan manufaktur global.
Dominasi ini menjadikan sawit sebagai sasaran utama kritik, regulasi ketat dan konflik kebijakan internasional. “Sehingga sawit bertransformasi dari bukan sekedar komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sudah menjadi konsumsi geopolitik ekonomi global,” kata Zulkarnain.
Strategi sawit ke depan, kata dia, merupakan kekuatan geopolitik ekonomi Indonesia di dunia internasional. Namun dilihat dari status kepemilikan, ternyata pemerintah hanya memiliki sebagian kecil perkebunan kelapa sawit.
Dari segi kemanfaatan, aktifitas perkebunan sawit mampu menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah dan sistem plasma inti memberikan “spread effect” ekonomi terhadap ekonomi rakyat di sekitar kebun.
Perkebunan sawit telah memenuhi aturan dalam penataan ruang, yaitu pemanfaatan lahan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan serta menjaga ekosistem wilayah. “Namun demikian pemerintah belum menetapkan kawasan strategis yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).”
Dari sisi energi, produk sawit merupakan bahan baku industri energi baru terbarukan (EBT). Hasil kajian terhadap aspek teknis, lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi, perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif terhadap pembangunan ekonomi wilayah dan ekonomi rakyat, yang berpengaruh terhadap kekuatan tawar geopolitik-ekonomi global.
Untuk itu, kata Zulkarnain, kelapa sawit sebagai komoditi strategis mampu mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara sehingga layak ditetapkan sebagai komoditi strategis nasional yang secara eksplisit diatur dalam peraturan perundangan.
Sementara itu Dr. Eko Murdiyanto, SP, MSi berharap keberadaan industri yang menghasilkan keuntungan dalam budaya ekonomi, bisa berdampak pada kepedulian sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan secara budaya sosial diharapkan mampu membangkitkan sociopreneur. Sehingga lingkungan sawit bisa berkelanjutan.
“Maka pengembangan perusahaan akan diikuti dengan kemampuan masyarakat yang semakin berdaya dan lingkungan lestari,” kata Eko Murdiyanto.

2 hours ago
2















































