REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 6 miliar untuk menjaga keberlanjutan industri padat karya agar tetap kompetitif dan mampu menyerap hingga 7 juta tenaga kerja di tengah tekanan ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan sektor industri yang menyerap banyak tenaga kerja tidak boleh ditinggalkan, meski arah pembangunan ekonomi nasional mulai bergeser ke industri berbasis modal dan teknologi.
“Bapak Presiden terus mengingatkan bahwa yang labor intensive base harus tetap dijaga. Jadi kita jangan hanya lari ke yang capital base,” kata Airlangga saat memberi sambutan dalam Food and Security Summit di Menara Kadin Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Ia menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran untuk menjaga daya saing teknologi dan keberlanjutan investasi di sektor padat karya, terutama industri tekstil dan produk tekstil. “Pemerintah akan menyiapkan dana sekitar Rp 6 miliar itu untuk menjaga agar teknologinya tetap bersaing dan investment-nya tetap berjalan,” ujarnya.
Menurut Airlangga, industri tekstil masih memiliki prospek besar karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan permintaan global yang relatif stabil. “Karena itu mau mempekerjakan 5 juta tenaga kerja yang tetap punya potensi naik sampai 7 juta tenaga kerja,” katanya.
Selain industri padat karya, pemerintah juga memberi perhatian besar pada pengembangan industri masa depan berbasis digital. Airlangga menyebut nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 125 miliar dolar AS pada 2025, dengan kontribusi sekitar 40 persen dari total ekonomi digital ASEAN.
“Indonesia ini salah satu negara digital yang market-nya besar sampai dengan 125 miliar dolar AS di tahun 2025,” ujarnya.
Untuk memperkuat struktur industri nasional, pemerintah juga mendorong pengembangan ekosistem semikonduktor. Airlangga mengatakan Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan Inggris untuk membangun industri semikonduktor yang berorientasi jangka panjang.
“Pemerintah kemarin sudah setuju kita akan mengembangkan ekosistem untuk semikonduktor,” kata Airlangga.
Ia menjelaskan, semikonduktor merupakan industri strategis karena digunakan di berbagai sektor, mulai dari elektronik, otomotif, internet of things, hingga pusat data. “Semikonduktor itu sangat strategis,” ujarnya.
Airlangga menilai penguatan industri berbasis inovasi, termasuk semikonduktor, menjadi kunci agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). “Inilah yang membedakan Jepang, Korea, dan berbagai negara lain yang mau lepas dari middle income trap,” katanya.
Dengan menjaga keseimbangan antara industri padat karya dan industri masa depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang tetap inklusif sekaligus berdaya saing di tingkat global.
sumber : Antara

3 hours ago
3














































