Jangan Cuma Modal Viral, Ini Rahasia Naik Kelas di Industri Kreatif Bareng Prodi Ilmu Komunikasi

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Di era digital, media sosial kerap menampilkan gambaran kesuksesan yang tampak sederhana. Konten yang masuk halaman utama, kerja sama endorsement yang berdatangan, serta narasi bahwa penghasilan dapat diperoleh hanya dengan membuat video singkat sering kali memunculkan anggapan bahwa industri kreatif dapat ditembus dengan mudah. Tidak sedikit yang kemudian berpikir bahwa mereka pun mampu meraih hasil serupa.

Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda. Banyak kreator yang telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan kreativitas dalam produksi konten berkualitas tinggi, tetapi tidak memperoleh respons yang sepadan. Demikian pula para penyedia jasa kreatif yang masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan apresiasi dan nilai profesional yang layak. Kondisi ini menunjukkan bahwa kreativitas semata tidak lagi cukup untuk bersaing secara berkelanjutan.

Memasuki tahun 2026, industri kreatif bergerak dengan dinamika yang semakin cepat dan kompetitif. Dunia profesional tidak lagi memberikan ruang bagi individu yang hanya “bisa”, tetapi menuntut mereka yang memiliki pemahaman strategis. Perubahan algoritma digital, perilaku audiens yang terus berkembang, serta tuntutan berbasis data menjadikan pendekatan konvensional semakin tidak relevan. Mengandalkan intuisi tanpa landasan analisis yang kuat berisiko membuat pelaku kreatif tertinggal.

Pada konteks tersebut, data menjadi elemen kunci. Industri kini membutuhkan komunikator strategis yang mampu membaca pola, memahami audiens, serta merancang pesan berdasarkan analisis yang terukur.

Kemampuan menjelaskan alasan di balik keberhasilan atau kegagalan sebuah konten menjadi nilai tambah yang sangat dicari, baik oleh perusahaan rintisan, agensi, maupun institusi besar.

Perkembangan ini sekaligus menegaskan bahwa pendekatan lama dalam mempelajari ilmu komunikasi tidak lagi memadai. Komunikasi saat ini telah menjadi elemen strategis dalam hampir seluruh lini bisnis. Tanpa literasi teknologi dan pemahaman data, kemampuan komunikasi berisiko kehilangan relevansinya di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks.

Teori dan Ketrampilan Praktis

Dalam konteks inilah Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) hadir sebagai solusi yang adaptif terhadap kebutuhan industri. Program ini dirancang tidak hanya untuk membekali mahasiswa dengan teori komunikasi, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan perkembangan zaman. Kurikulum difokuskan pada komunikasi digital, media kreatif, serta pengelolaan informasi yang selaras dengan kebutuhan industri saat ini.

Mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga dilatih untuk mengolah data komunikasi, menganalisis keterlibatan audiens, serta menyusun strategi berbasis riset. Proses pembelajaran juga menekankan pada pembentukan portofolio melalui berbagai proyek kreatif dan praktik lapangan, sehingga lulusan memiliki bekal nyata saat memasuki dunia kerja. Lingkungan kampus yang berbasis teknologi turut mendukung kesiapan mahasiswa untuk beradaptasi dengan ritme industri yang cepat dan dinamis.

Peluang karier bagi lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI terbuka luas, mulai dari kreator konten berbasis data, perancang strategi media sosial, praktisi hubungan masyarakat yang andal dalam manajemen isu digital, hingga penulis kreatif dan direktur kreatif yang mampu mendorong keputusan audiens secara efektif.

Menghadapi industri kreatif 2026, pilihan berada di tangan generasi muda: menjadi bagian dari perubahan atau sekadar menjadi penonton. Dengan bekal pendidikan yang tepat, kreativitas tidak hanya menjadi ekspresi, tetapi juga aset profesional yang bernilai tinggi. Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI hadir sebagai jembatan bagi mereka yang ingin mengembangkan potensi secara terarah dan berkelanjutan.

Saatnya mengambil langkah strategis untuk masa depan. Bersama UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, persiapkan diri untuk menjadi pelaku utama di industri kreatif, bukan sekadar mengikuti arus.

Read Entire Article
Politics | | | |