John Herdman, Memilih Indonesia karena Panggilan Hati

2 weeks ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi memperkenalkan John Herdman sebagai Pelatih Kepala Tim Nasional Indonesia. Namun, di balik reputasinya sebagai pelatih berkelas dunia, PSSI ingin menghadirkan Herdman bukan semata sebagai ahli strategi lapangan, melainkan sebagai sosok manusia dengan kisah hidup inspiratif yang memilih Indonesia sebagai babak baru perjalanan hidupnya.

Kisah John Herdman adalah cerita tentang overachievement yang sesungguhnya. Ia tumbuh di Consett, wilayah timur laut Inggris, dari keluarga kelas pekerja. Kakek dan ayahnya menghabiskan hidup di pabrik baja. Lingkungan keras dan sederhana itu membentuk karakter Herdman muda, tangguh, pantang menyerah, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi fondasi filosofi kepelatihannya; ketahanan mental, kepercayaan, dan persaudaraan.

Herdman memulai karier dari bawah. Ia mengajar paruh waktu sambil melatih tim-tim usia dini. Pada 2001, ia mengambil keputusan besar meninggalkan Inggris menuju Selandia Baru bersama istrinya, Clare, kekasih masa kecil yang telah mendampinginya sejak usia 16 tahun.

Keluarga menjadi jangkar utama dalam hidup Herdman, termasuk dua anaknya, Lilly dan Jay. Dukungan keluarga itulah yang mengantarkannya mencatat sejarah sebagai satu-satunya pelatih di dunia yang mampu membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara lolos ke Piala Dunia FIFA.

Penunjukan Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia pun bukan keputusan biasa. PSSI menilai, di tengah banyaknya tawaran dari berbagai negara, termasuk dari kawasan CONCACAF, pilihan Herdman berlabuh ke Indonesia mencerminkan keputusan yang bersifat personal dan visioner.

“Indonesia bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan untuk transformasi,” ujar Herdman dalam pertemuan perdananya bersama PSSI pada pertengahan Desember 2025.

Ia mengaku melihat potensi besar dalam sepak bola Indonesia. Gairah publik yang luar biasa, basis suporter yang masif, serta kerinduan panjang akan prestasi menjadi daya tarik utama bagi pelatih berusia 50 tahun tersebut.

Pilihan Herdman menunjukkan bahwa ia mencari lebih dari sekadar hasil pertandingan. Ia mencari proyek dengan dampak sosial dan budaya yang mendalam. Seperti yang pernah ia lakukan di Kanada, Herdman melihat Timnas Indonesia sebagai kanvas untuk membangun warisan jangka panjang, menciptakan sistem, identitas, dan generasi pemain masa depan.

Herdman datang dengan rasa hormat terhadap budaya sepak bola Indonesia. Ia dikenal sebagai pelatih yang mampu menyelaraskan program pengembangan bakat dari level akar rumput hingga tim nasional, membangun konsep One Team yang menyatukan semua elemen.

Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi Indonesia, negara dengan keragaman budaya dan talenta yang melimpah.

“Saya tidak datang untuk memaksakan budaya asing. Saya datang untuk menggali dan memuliakan budaya sepak bola Indonesia,” kata Herdman.

Ia menegaskan filosofi kepelatihannya bertumpu pada pembangunan brotherhood atau persaudaraan yang kuat. Setiap pemain, baik lokal maupun naturalisasi, harus merasa aman, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama.

“Kami akan membangun identitas Garuda yang baru—kuat secara taktik dan tak pernah kalah dalam semangat,” ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |