KAI Kaji Konektivitas Industropolis Batang ke Pelabuhan Utama

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)/Industropolis Batang, Jawa Tengah. Langkah itu sebagai bagian dari pengembangan ekosistem logistik yang semakin terintegrasi di Pulau Jawa.

Pembahasan pengembangan konektivitas tersebut melibatkan PT KAI, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) atau SPJT, dan Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Batang atau Perumda Aneka Usaha Batang. Selain itu, melibatkan PT Kawasan Industri Terpadu Batang atau KITB/Industropolis Batang, selaku pengelola.

"Kajian diarahkan pada keterhubungan kawasan industri dengan dry port, seaport, jaringan kereta api, pergudangan, trucking, serta pelabuhan utama," ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Anne mengatakan, infrastruktur logistik memiliki peran strategis dalam menentukan kelancaran arus barang dari kawasan industri menuju pasar domestik maupun internasional. Dia menjelaskan, kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien.

"KAI melihat kereta api memiliki ruang besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang," ucap Anne.

Menurut Anne, peran tersebut didukung skala layanan angkutan barang KAI. Sepanjang Januari-Juli 2026, KAI melayani 38.648.919 ton barang. Sebanyak 31.661.769 ton merupakan batu bara, sementara 6.987.150 ton berasal dari komoditas nonbatu bara seperti petikemas, semen, BBM, komoditas perkebunan, ritel, dan komoditas lainnya.

Anne mengatakan, pengalaman mengelola pergerakan barang dalam volume besar menjadi modal penting dalam membaca potensi kawasan industri baru. Bertumbuhnya aktivitas produksi di KITB dapat membuka arus barang baru apabila terkoneksi dengan terminal, pelabuhan, dan jaringan distribusi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing komoditas.

"Dalam pembahasan awal, konektivitas menuju Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, serta Patimban menjadi beberapa arah yang akan didalami," ucap Anne.

Dia menyampaikan, Tanjung Priok dapat memperkuat akses barang dari KITB menuju jaringan perdagangan internasional, sementara konektivitas ke Tanjung Perak/Kalimas membuka akses ke jaringan distribusi dan pelayaran melalui kawasan timur Pulau Jawa. Patimban juga masuk dalam alternatif jaringan yang akan dianalisis berdasarkan asal-tujuan serta kebutuhan tenant KITB.

"Pemanfaatan kereta api akan ditentukan berdasarkan jarak, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, waktu perjalanan, proses handling, serta efisiensi keseluruhan rantai logistik," ungkap Anne.

Dia menerangkan, relasi dengan jarak sekitar 150-200 kilometer ke atas menjadi salah satu rentang yang akan didalami. Sementara untuk tujuan yang relatif lebih dekat seperti Semarang/Tanjung Emas, pilihan moda perlu dibandingkan untuk memperoleh skema distribusi yang paling efektif.

Read Entire Article
Politics | | | |