Ketika Kota Menjadi Tubuh Puisi Jawa Timur

8 hours ago 4

Image Olivia Dewi

Sastra | 2026-07-12 15:45:38

Dokumentasi PKL Sejarah Kesusastraan di Dewan Kesenian Jawa Timur bersama Bapak Luhur Kayungga sebagai bagian dari penelusuran arsip dan khazanah kepenyairan Jawa Timur.

"Kota tidak hanya dibangun oleh beton, tetapi juga oleh kata-kata."

Ketika orang berbicara tentang puisi Jawa Timur, yang sering muncul adalah nama-nama penyairnya atau kecenderungan estetik yang berkembang dari masa ke masa. Padahal, jika diperhatikan lebih jauh, ada satu benang merah yang terus hidup dalam kepenyairan Jawa Timur selama dua dekade terakhir, yakni kota. Kota tidak lagi sekadar menjadi latar tempat sebuah puisi, melainkan berubah menjadi tubuh yang menyimpan sejarah, ingatan, bahkan kritik terhadap perubahan zaman.

Fenomena tersebut tampak cukup jelas dalam perkembangan puisi Jawa Timur sejak tahun 2000 hingga sekarang. Penyair-penyair Jawa Timur memanfaatkan ruang kota bukan hanya sebagai penanda geografis, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki memori kolektif. Kota menjadi tempat bertemunya manusia dengan pengalaman sosial, sejarah, dan identitas lokal. Melalui puisi, kota tidak lagi dipahami sebagai kumpulan jalan, gedung, atau pusat perdagangan, melainkan sebagai ruang yang terus berbicara mengenai siapa manusia yang hidup di dalamnya.

Pada periode 2000–2009, kecenderungan itu mulai terlihat melalui karya-karya penyair seperti Indra Tjahyadi, Akhudiat, Hidayat Raharja, Tjahjono Widarmanto, hingga Umar Fauzi. Surabaya, Sumenep, Sampang, maupun ruang-ruang lain di Jawa Timur hadir bukan hanya sebagai nama tempat. Surabaya dalam Kitab Syair Diancuk Jaran misalnya, tampil sebagai kota yang penuh konflik, ironi, dan identitas khas masyarakat urban. Bahasa Suroboyoan yang digunakan Indra Tjahyadi memperlihatkan bahwa lokalitas tidak disembunyikan, tetapi justru dijadikan kekuatan estetik puisi.

Sementara itu, Akhudiat menghadirkan Surabaya sebagai kota yang memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah kota modern yang dipenuhi baja, beton, dan kaca. Di sisi lain, Surabaya tetap membawa sejarah panjang yang hidup melalui trem, Kalimas, ludruk, hingga legenda-legenda yang membentuk identitas kota. Sejarah dalam puisi-puisi tersebut tidak hadir sebagai pelajaran masa lalu, melainkan sebagai ingatan yang terus menyertai kehidupan masyarakat hari ini.

Memasuki periode 2010–2019, wajah kota dalam puisi Jawa Timur mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya kota banyak diposisikan sebagai ruang identitas, pada dekade ini kota semakin sering dijadikan medium kritik sosial. Pembangunan yang masif, banjir, kemacetan, hilangnya ruang hijau, hingga penggusuran menjadi tema yang berulang dalam berbagai karya.

Puisi-puisi Denny Mizhar, misalnya, memperlihatkan bagaimana Kota Malang berubah dari ruang penuh kenangan menjadi ruang yang perlahan kehilangan wajahnya akibat pembangunan. Kota bukan lagi tempat pulang, melainkan ruang yang dipenuhi kegelisahan. Hal serupa tampak dalam puisi Andi Wirambara yang menggambarkan gedung-gedung tinggi, banjir, dan hilangnya kehangatan hubungan antarmanusia sebagai konsekuensi kehidupan urban.

Menariknya, kritik terhadap kota tidak pernah dilepaskan dari unsur lokalitas. Penyair Jawa Timur justru semakin banyak menghadirkan nama-nama tempat yang konkret, seperti Wonokromo, Ampel, Tanjung Perak, Banjaranyar, hingga Kediri. Penyebutan ruang-ruang tersebut menunjukkan bahwa puisi Jawa Timur tetap berpijak pada pengalaman masyarakatnya sendiri. Kota tidak diperlakukan sebagai simbol yang abstrak, melainkan sebagai ruang yang benar-benar dialami.

Periode 2020 hingga sekarang menunjukkan perkembangan lain yang tidak kalah menarik. Kota hadir sebagai ruang yang semakin kompleks karena harus berhadapan dengan perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat. Penyair tidak hanya merekam perubahan fisik kota, tetapi juga perubahan cara manusia menjalani hidup di dalamnya. Debu, polusi, gedung-gedung tinggi, hingga hilangnya tradisi menjadi metafora yang berulang dalam puisi-puisi mutakhir.

Ali Ibnu Anwar melalui Orde Batu memperlihatkan bagaimana perkembangan zaman justru melahirkan keterasingan baru. Kota dipenuhi gedung, jalan, pasar, dan perkantoran, tetapi manusia semakin jauh dari akar tradisinya. Sementara itu, Samsudin Adlawi menghadirkan Banyuwangi melalui perpaduan sejarah, legenda Sri Tanjung, dan ruang pesisir sehingga kota tetap menjadi ruang yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kepenyairan Jawa Timur tidak pernah berhenti mengikuti perkembangan masyarakatnya. Kota selalu bergerak, demikian pula puisi. Ketika kota berubah karena pembangunan, penyair merekamnya. Ketika sejarah mulai dilupakan, penyair menghidupkannya kembali melalui bahasa. Ketika manusia mulai kehilangan hubungan dengan ruang tempatnya hidup, puisi menjadi pengingat bahwa setiap kota memiliki ingatan yang layak dipertahankan.

Pada akhirnya, membaca puisi Jawa Timur berarti membaca perjalanan kota-kotanya sendiri. Surabaya, Malang, Banyuwangi, Lamongan, Madura, hingga Sumenep tidak sekadar hadir sebagai nama wilayah administratif, melainkan sebagai ruang yang menyimpan jejak sejarah, budaya, sekaligus pengalaman manusia. Di tangan para penyair, kota berubah menjadi tubuh sastra yang terus tumbuh mengikuti perubahan zaman.

Barangkali di situlah letak kekuatan puisi Jawa Timur hari ini. Ia tidak hanya mengabadikan kota sebagaimana adanya, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap perubahan ruang selalu menyisakan cerita. Dan selama masih ada penyair yang bersedia menuliskannya, kota-kota itu tidak akan benar-benar kehilangan ingatannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |