Desfal Triati
Gaya Hidup | 2026-01-23 18:19:34
Berjam-jam menatap layar komputer membuat otak terus bekerja, sementara tubuh nyaris tak bergerak. Notifikasi datang tanpa jeda, rapat daring bersambung ke rapat berikutnya, dan hari kerja sering berakhir dengan kepala penuh serta tubuh yang terasa asing bagi diri sendiri. Dalam ritme kerja seperti ini, banyak dari kita merasa sulit benar-benar beristirahat—bahkan untuk sekadar piknik pun sering tak sempat.
Sebagai dosen, sebagian besar waktu kerja saya dihabiskan di depan layar: membaca naskah, menyusun materi, mengoreksi tugas, dan menghadiri pertemuan daring. Ironisnya, pekerjaan yang menuntut pikiran aktif ini justru membuat tubuh semakin pasif. Hingga suatu hari saya menyadari, ketenangan yang saya cari tidak selalu harus jauh. Ia justru hadir di pekarangan rumah, ketika tangan menyentuh tanah, menyiram tanaman, dan menunggu bibit tumbuh menjadi daun.
Fenomena kelelahan mental akibat kerja berbasis layar bukan hal sepele. Berbagai survei menunjukkan bahwa tekanan kerja dan stres psikologis menjadi bagian dari kehidupan pekerja modern. Di Indonesia, sekitar 15 persen pekerja melaporkan mengalami stres kerja harian, sementara survei lain menunjukkan sebagian besar pekerja merasakan tekanan mental namun tidak memiliki cukup ruang untuk relaksasi. Dalam kondisi seperti ini, liburan atau piknik sering dianggap sebagai kemewahan—bukan kebutuhan.
Di sinilah berkebun menawarkan makna yang berbeda. Berkebun bukan terapi medis, bukan pula solusi tunggal atas masalah kesehatan mental. Namun, ia menyediakan jeda sederhana yang sering kita abaikan: aktivitas fisik ringan, fokus pada pekerjaan nyata yang tidak digital, dan keterhubungan dengan proses hidup yang berjalan perlahan. Saat menanam, perhatian kita berpindah dari layar ke tanah, dari notifikasi ke pertumbuhan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas berkebun berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis, penurunan stres, serta perasaan lebih tenang dan puas. Menanam dan merawat tanaman membantu otak beristirahat dari tekanan kognitif tinggi, sekaligus mengaktifkan kembali tubuh yang lama diam. Tidak heran jika banyak orang merasakan kepuasan emosional saat melihat tanaman tumbuh atau memanen hasilnya, meski dalam skala kecil.
Selain manfaat mental, berkebun di pekarangan juga memberi nilai tambah nyata bagi pangan keluarga. Menanam cabai, kangkung, selada, atau daun bawang di pot dan polybag tidak membutuhkan lahan luas. Hasil panen memang tidak selalu besar, tetapi cukup untuk melengkapi kebutuhan dapur harian. Dalam banyak kasus, kebun rumah terbukti berkontribusi pada ketahanan pangan keluarga dan mendorong konsumsi pangan segar yang lebih sehat.
Bagi pekerja yang sehari-hari terikat pada layar, berkebun juga dapat menjadi bentuk “piknik mikro”. Tanpa harus pergi jauh, tanpa biaya besar, seseorang bisa mendapatkan jeda mental melalui aktivitas menanam dan merawat tanaman. Lima belas hingga dua puluh menit menyiram atau memeriksa tanaman di sore hari sering kali terasa lebih memulihkan daripada sekadar menggulir layar ponsel.
Memulai berkebun tidak perlu ambisius. Satu atau dua pot sudah cukup. Kuncinya bukan pada banyaknya tanaman, tetapi pada ritme dan kesadaran. Berkebun sebaiknya diposisikan sebagai waktu jeda, bukan tugas tambahan. Saat berada di pekarangan, kita belajar memperlambat langkah, menerima proses, dan menikmati hasil kecil—sesuatu yang jarang kita rasakan dalam dunia kerja yang serba cepat dan terukur.
Sebagai dosen dan peneliti pertanian, pengalaman berkebun di rumah justru memperkuat keyakinan saya bahwa pertanian tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Pendidikan dan kesadaran tentang pangan bisa tumbuh dari ruang paling dekat dengan kita: rumah sendiri. Ketika masyarakat kembali akrab dengan tanaman, hubungan kita dengan pangan menjadi lebih personal dan bermakna.
Di tengah dunia kerja yang semakin digital dan menuntut, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar waktu libur yang panjang, melainkan jeda-jeda kecil yang konsisten. Menyentuh tanah, menanam sayur, dan memanen hasil sendiri bukan langkah mundur, melainkan cara sederhana untuk merawat tubuh, menenangkan pikiran, dan sekaligus menjaga ketersediaan pangan sehari-hari.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3




































