REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Bisyr bin al-Harits seorang waliyullah mantan pemabuk dan berandalan yang dikagumi Imam Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun. Imam Ahmad sering meminta kepada Bisyr bin al-Harits agar diceritakan tentang Allah SWT.
Dikisahkan, Bisyr si manusia berkaki telanjang, sewaktu muda, ia adalah seorang berandal. Suatu hari dalam keadaan mabuk, ia berjalan sempoyongan.
Tiba-tiba Bisyr menemukan selembar kertas bertuliskan, "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Bisyr kemudian membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut kemudian menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.
Malam harinya seorang manusia suci bermimpi. Dalam mimpi itu ia diperintah Allah SWT untuk mengatakan kepada Bisyr:
"Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan namamu. Engkau telah mensucikan nama-Ku, maka Aku pun telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Kuharumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat nanti."
Orang suci yang mendapat mimpi dan perintah tersebut berguman, "Bisyr adalah seorang pemuda berandal. Mungkin aku telah bermimpi salah."
Maka orang suci itu segera berwudhu, sholat kemudian tidur kembali, namun tetap saja mendapati mimpi yang sama. Ia ulangi perbuatan itu untuk ketiga kalinya, ternyata tetap mengalami mimpi yang sama.
Keesokan harinya, orang suci tersebut pergi mencari Bisyr. Dari seseorang yang ditanyanya, ia mendapat jawaban, "Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur."
Maka, pergilah orang suci itu ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampainya di sana, ia bertanya, "Apakah Bisyr ada di sini."
Seseorang menjawab, "Ada dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya."
Orang suci itu berkata, "Katakan kepada Bisyr bahwa ada pesan yang hendak kusampaikan kepadanya."
Singkat cerita, Bisyr bertanya kepada orang suci itu, "Pesan dari siapa?"
Orang suci itu menjawab singkat, "(Pesan) dari Allah."
Bisyr berkata, "Aduh." Kemudian air matanya berlinang.
Bisyr bertanya kepada orang suci itu, "Apakah pesan untuk mencela atau untuk menghukum diriku? Tetapi tunggulah sebentar, aku akan pamit kepada sahabat-sahabatku terlebih dahulu."
Bisyr berkata kepada sahabat-sahabatnya yang sedang minum, "Aku dipanggil, oleh karena itu aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan yang seperti ini."
Pertobatan Sang Pemabuk
Sejak saat itu tingkah laku Bisyr berubah sedemikian salehnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar namanya tanpa kedamaian Ilahi menyentuh hatinya.
Bisyr telah memilih jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia menghadap Allah SWT bahkan mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Inilah sebabnya mengapa Bisyr dijuluki si manusia berkaki telanjang.
Apabila ditanya seseorang, "Bisyr, apakah sebabnya engkau tak pernah memakai alas kaki?"
Jawab Bisyr, "Ketika aku berdamai dengan Allah, aku sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata: Telah Kuciptakan bumi sebagai permadani untukmu. Maka tidak pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadani Raja?"
Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal sangat sering mengunjungi Bisyr, ia begitu mempercayai kata-kata Bisyr sehingga murid-murid Imam Ahmad pernah mencela sikapnya itu.
Seorang murid berkata kepada Imam Ahmad, "Pada zaman ini tidak ada orang yang dapat menandingimu di bidang hadits, hukum, teologi dan setiap cabang ilmu pengetahuan, tetapi setiap saat engkau menemani seorang berandal. Pantaskah perbuatanmu itu?"
Imam Ahmad menjawab, "Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr."
"Tetapi mengenai Allah, ia (Bisyr) lebih ahli daripada aku," ujar Imam Ahmad bin Hambal menjawab pertanyaan muridnya.
Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr, "Ceritakanlah kepadaku perihal Tuhanku."
Demikian kisah Bisyr bin al-Harits, pemabuk yang bertobat dan dijuluki waliyullah oleh orang-orang yang menyaksikan kezuhudannya dan kisah hidupnya, dikutip dari kitab Tadzkiratul Auliya yang ditulis Fariduddin Attar di abad ke-12.
Nama lengkap san wali, Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi, lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah atau 767 Masehi. Setelah meninggalkan hidup berfoya-foya, ia mempelajari hadits di Baghdad, kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan dan bertelanjang kaki. Bisyr bin al-Harits meninggal di kota Baghdad tahun 227 H atau 841 M. Ia sangat dikagumi oleh Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun.

2 weeks ago
18















































