REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lintas komisi mendesak Polri untuk mengusut aksi-aksi intimidasi dan teror yang dilakukan kelompok tak dikenal terhadap para influencer dan aktivis. Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mengaku prihatin dengan merebaknya ancaman-ancaman kekerasan dan aksi-aksi teror yang belakangan menyasar kalangan pegiat media sosial (medsos) serta mereka yang selama ini kritis terhadap pemerintahan.
Komnas Perempuan mencatat beberapa aktivis lingkungan seperti Iqbal Damanik dari Greenpeace dan pegiat medsos Sherl Annavita Rahmi pun juga Ramon Deny Adam atau yang dikenal sebagai DJ Donny mengalami aksi-aksi teror dan pengancaman lantaran mengkritisi langkah pemerintah dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
“Komnas Perempuan mengecam segala bentuk ancaman dan teror terhadap aktivis dan influencer media sosial tersebut,” kata Komisioner Komnas Perempuan Chatarina Pancer Istiyani dalam siaran pers, Rabu (7/1/2025).
Komnas Perempuan menilai, segala bentuk pengancaman dan aksi-aksi teror yang menyasar para pegiat sosial dan aktivis tersebut merupakan pembungkaman terhadap kebebasan menyampaikan pendapat dan partisipasi publik dalam mengkritik pemerintahan. “Tindakan tersebut merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab,” kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Dahlia Madanih.
Komnas Perempuan mendesak agar aparat penegak hukum memberikan perlindungan dan mengusut para pelaku tindakan pengancaman dan aksi-aksi teror terencana tersebut. “Pemerintah dan aparat penegak hukum penting untuk menindaklanjuti penyelidikan secara serius serta memastikan perlindungan keamanan dan sosial bagi seluruh warga negara,” kata dia. Komnas juga meminta negara memberikan jaminan agar peristiwa-peristiwa serupa tak berlanjut.
“Komnas Perempuan merekomendasikan agar Kepolisian Republik Indonesia mengusut tuntas dan mengambil langkah tegas kepada pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam insiden teror dan ancaman tersebut,” begitu desakan Komnas Perempuan.
Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Mohammad Choirul Anam mengaku sudah mendengar perihal adanya beragam peristiwa terkait dengan aksi-aksi pengancaman dan tindakan teror yang menyasar para aktivis dan pegiat medsos belakangan ini. Kompolnas juga mendesak agar Polri mengambil tindakan pencegahan, dan memastikan penegakan hukum terhadap para pelaku.
Choirul mengatakan, Polri semestinya dapat dengan mudah mengusut dalang maupun pelaku langsung dari aksi-aksi pengancaman serta teror terhadap para pegiat sipil dan para influencer itu. Choirul merekomendasikan ke kepolisian untuk menggunakan teknis cell dump dalam melacak para pelaku.
“Pasti ada rekam jejak nomor digital di seputar itu, sehingga bisa di-cell dump sehingga kita bisa tahu orang itu siapa, alamatnya di mana,” ujar Choriul.
Kepolisian, pun kata dia, bisa mencari para pelaku melalui rekaman-rekama CCTV di seputar lingkungan tempat tinggal para aktivis, dan pegiat sosial yang mengalami tindakan teror dan pengancaman. “Kalau kena CCTV, dia bisa kelihatan wajahnya, dan bisa dicek NIK-nya,” kata Choirul.
Kompolnas, kata Choirul juga menegaskan, kritik dan kebebasan berekspresi dari semua kalangan merupakan hak asasi. Negara, kata dia, harus menjamin semua bentuk kebebasan berekspresi dan penyampaian pendapat tersebut tanpa dihalang-halangi.

1 week ago
13















































