Kuasai IT untuk Majukan Madrasah di Era Perubahan

20 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM – Di era disrupsi teknologi, kemampuan untuk adaptif terhadap perubahan bukan lagi sekadar keunggulan, melainkan suatu keharusan bagi aparatur sipil negara. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Nusa Tenggara Barat (NTB), Zamroni Aziz, saat memberikan pengarahan kepada jajaran, termasuk para kepala madrasah yang baru dilantik.

Agar adaptif, Zamroni menekankan perlunya pemahaman mendalam tentang perkembangan teknologi informasi, terutama dengan masuknya era Revolusi Industri 4.0 yang mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis. Perkembangan pesat kecerdasan artifisial (AI), big data, Internet of Things (IoT), dan komputasi awan telah mengubah paradigma di semua sektor, termasuk pendidikan dan pelayanan publik. Penguasaan teknologi-teknologi ini menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan layanan, dan menciptakan inovasi baru.

Menurut Zamroni, penguasaan Teknologi Informasi (TI) adalah syarat mutlak untuk memajukan kualitas pendidikan di madrasah, terutama dalam menghadapi era disrupsi saat ini. Oleh karena itu, madrasah dituntut untuk adaptif dan menjadi garda terdepan dalam penguasaan teknologi guna memastikan lulusannya memiliki daya saing tinggi tanpa mengesampingkan nilai-nilai religius.

Saat ini, integrasi TI bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan instrumen vital untuk memperluas akses dakwah digital moderat, meningkatkan efisiensi manajemen pendidikan, serta menjawab tantangan zaman yang serba otomatis. Dengan menguasai teknologi, madrasah dapat membuktikan bahwa iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan, sekaligus menghapus stigma kuno dan memosisikan diri sebagai institusi pendidikan modern yang relevan bagi generasi Z dan Alpha.

Pejabat yang dilantik terdiri atas unsur kepala madrasah (MIN, MTsN, dan MAN) dari seluruh kabupaten/kota di NTB, kepala Kantor Urusan Agama (KUA), serta pejabat fungsional perencana. Ia menyatakan bahwa pemilihan para pejabat didasarkan pada rekam jejak, potensi, dan kemampuan luar biasa yang mereka miliki.

Oleh karena itu, menurutnya, amanah di tempat tugas yang baru merupakan bentuk kepercayaan pimpinan atas kinerja nyata yang telah ditunjukkan. Melaksanakan amanah dengan bertanggung jawab berarti memiliki komitmen penuh untuk menjalankan tugas dan wewenang secara profesional, transparan, dan akuntabel. Ini mencakup upaya mencapai tujuan organisasi, mengelola sumber daya dengan baik, serta siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan dan hasil kerja kepada pimpinan dan masyarakat.

"Yang dilantik adalah mereka yang telah mengukir prestasi luar biasa. Saya berharap prestasi dan semangat kerja tersebut tidak berhenti di sini, melainkan harus ditularkan dan diimplementasikan di tempat tugas yang baru demi kemajuan instansi," tegas Zamroni.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang harmonis. Dalam konteks ini, komunikasi harmonis berarti menciptakan interaksi yang efektif, saling menghargai, dan sinergis baik di internal instansi maupun dengan eksternal, seperti masyarakat dan pemerintah daerah. Komunikasi semacam ini membangun saling pengertian, mencegah konflik, dan mempermudah koordinasi untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk itu, ia meminta para pejabat baru untuk tidak melupakan fondasi yang telah dibangun oleh pendahulu serta terus menjalin kerja sama erat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah setempat. "Bangun komunikasi yang baik dengan para senior dan pendahulu. Lanjutkan program-program baik yang telah ada dan kembangkan inovasi baru," pesannya.

Inovasi dalam kerja pemerintah saat ini memiliki arti strategis sebagai pendorong efisiensi, peningkatan kualitas pelayanan publik, dan respon terhadap tantangan zaman yang cepat berubah. Inovasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga metode kerja, regulasi, dan pendekatan pelayanan yang lebih partisipatif dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.

Sebagai pedoman, Zamroni berpesan agar seluruh pejabat memegang kebijakan Menteri Agama, yakni semangat Asta Protas dan Kurikulum Cinta. Asta Protas merupakan delapan prinsip kerja Kementerian Agama yang terdiri dari: Aspiratif, Stabil, Terpercaya, Adaptif, Profesional, Tangguh, Amanah, dan Solid. Prinsip ini menjadi kompas etos kerja dan pelayanan. Sementara itu, Kurikulum Cinta adalah pendekatan khas Kemenag yang menekankan pendidikan akhlak dan karakter berbasis nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan moderasi beragama, untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki budi pekerti luhur.

Para pejabat fungsional yang dilantik adalah sebagai berikut:

Kepala Madrasah: Lalu Syauki (MAN 1 Mataram), Sumber Hadi (MAN 2 Mataram), Muhammad Salahuddin (MTsN 1 Mataram), Khairun Nisaq (MIN 3 Kota Mataram), Subki Ali (MIN 1 Kota Mataram), Kemas Burhan (MAN Lombok Barat), Chairil Anwar (MTsN 1 Lombok Barat), Abdul Azis Farabi (MTsN 2 Lombok Barat), Nikmatul Islam (MIN 1 Lombok Barat), Diguna (MTsN 2 Lombok Tengah), Najamudin (MTsN 6 Lombok Tengah), Sri Rabiatul Hasanah (MIN 2 Lombok Tengah), Bahjan (MTsN 1 Lombok Timur), Suparman (MTsN 2 Lombok Timur), Dewi Sulistyawati (MTsN 4 Lombok Timur), Hairil Anwar (MAN Dompu), Hairunniah (MTsN 2 Dompu).

Kepala KUA: Than Tawi Jauhari (KUA Sekarbela), Herjan (KUA Selaparang), Hadi Satriawan (KUA Kuripan), Marliadi (KUA Gerung), Ahmad Makki (KUA Labuapi), Fatahurrahman (KUA Sekotong), Muzakki (KUA Gunungsari), Isnarto Mardain Ningrat (KUA Lingsar), Kamiludin (KUA Praya Barat Daya), Aminudin Fahri (KUA Praya Tengah), Suhaili (KUA Pujut), Suhardi (KUA Praya), Susanto (KUA Suralaga), Lalu Darmawe (KUA Sakra Timur), Suhairi (KUA Pringgasela), Hasri Naji (KUA Aikmel), Darsiah (KUA Sikur), Mujiburrahman (KUA Labuhan Haji), Hamim Najmi (KUA Selong), Muhammad Khairul Anwar (KUA Sukamulia).

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |