Laba BSI Tumbuh 11,08 Persen, Bisnis Emas Jadi Salah Satu Penopang

13 hours ago 15

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan laba bersih Rp4,16 triliun pada semester I 2026. Laba tersebut tumbuh 11,08 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo mengatakan pertumbuhan laba ditopang oleh sejumlah sumber pendapatan, salah satunya bisnis emas yang terus berkembang. Selain itu, pendapatan berbasis jasa (fee-based income) juga meningkat signifikan. 

Fee-based income kita meningkat hampir 38 persen. Hal ini tentu berdampak terhadap perbaikan rasio-rasio kinerja perbankan,” kata Ade dalam pemaparan kinerja BSI Kuartal II 2026, Jumat (21/8/2026).

Fee-based income BSI tumbuh 38,15 persen secara tahunan menjadi lebih dari Rp 4 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong antara lain oleh bisnis emas, aktivitas treasury, serta transaksi melalui kanal digital BYOND.

Dari bisnis emas, pembiayaan tumbuh 80,52 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp 30,4 triliun. Pembiayaan tersebut memiliki yield sekitar 12,4 persen dengan rasio non-performing financing (NPF) sebesar 0,11 persen. “Bisnis emas kita tumbuh sangat agresif 92 persen tumbuh year on year berasal dari produk gadai maupun tabungan emas kita,” ujar Ade.

Pertumbuhan bisnis emas juga terlihat dari jumlah penggunanya. Hingga Juni 2026, nasabah tabungan emas BSI telah mencapai lebih dari 1,2 juta orang. Sementara nasabah gadai emas lebih dari 200 ribu dan cicil emas mencapai sekitar 600 ribu. 

Selain bisnis emas, penghimpunan dana masyarakat menjadi salah satu penopang kinerja BSI. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 21,81 persen secara tahunan menjadi Rp 393 triliun. 

Pertumbuhan DPK terutama berasal dari tabungan yang mencapai Rp 173 triliun atau tumbuh 22,32 persen. Penguatan dana murah tersebut turut menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF) BSI menjadi 2,19 persen. 

Ade mengatakan level CoF tersebut menjadi salah satu capaian penting BSI di tengah persaingan mendapatkan dana masyarakat yang masih ketat. “Level Cost of Fund 2,19 persen ini merupakan angka yang jauh lebih baik di periode dua tahun terakhir ini,” katanya. 

Sementara itu, pembiayaan BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp 340,09 triliun atau tumbuh 15,98 persen secara tahunan. Kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan NPF gross 1,8 persen dan NPF net 0,33 persen. 

Total aset BSI mencapai Rp 464 triliun, tumbuh 15,96 persen secara tahunan. Kinerja tersebut menunjukkan ekspansi bisnis BSI tetap berjalan di tengah kondisi likuiditas yang masih ketat.

Read Entire Article
Politics | | | |