Lawan Cuaca Ekstrem, BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca untuk Amankan Jakarta

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Langit Jakarta belakangan ini seolah tak berhenti menumpahkan bebannya. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur secara konsisten sejak awal tahun telah menempatkan ibu kota dalam status siaga.

Awan mendung yang menggantung pekat bukan lagi sekadar pemandangan harian, melainkan alarm waspada bagi jutaan warga akan ancaman banjir yang bisa datang sewaktu-waktu akibat luapan sungai maupun drainase yang tak lagi mampu menampung debit air.

Potensi bencana yang kian nyata ini menuntut langkah antisipasi yang tidak biasa. Dengan kondisi tanah yang jenuh air dan frekuensi hujan yang terus meningkat, risiko terjadinya genangan masif di berbagai titik vital Jakarta menjadi kekhawatiran utama. Di tengah ancaman hidrometeorologi yang mengintai di setiap sudut kota, pemerintah pun memutuskan untuk melakukan intervensi langsung terhadap awan-awan hujan di langit sebelum mereka mencapai daratan Jakarta.

Secara teknis, Jakarta saat ini sedang menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipicu oleh parameter meteorologi seperti curah hujan, kelembapan, temperatur, dan angin. Fenomena ini mencakup banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang terjadi akibat perubahan cuaca ekstrem. Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, tingginya intensitas hujan dalam durasi singkat saja sudah cukup untuk mengganggu stabilitas infrastruktur dan mobilitas warga.

Sebagai langkah preventif, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai hari ini hingga lima hari ke depan. OMC adalah upaya manusia untuk mengubah tingkat curah hujan dengan cara "menyemai" awan menggunakan bahan semai (seperti garam) yang ditaburkan dari pesawat. Tujuannya adalah untuk menurunkan hujan lebih awal di laut atau wilayah yang tidak rawan banjir, sehingga volume hujan yang jatuh di atas pemukiman padat penduduk dapat berkurang secara signifikan.

Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa OMC menjadi instrumen krusial dalam menekan angka bencana di Jabodetabek. Pada periode sebelumnya, operasi serupa berhasil mengalihkan awan-awan konvektif yang berpotensi menyebabkan hujan ekstrem di pusat kota, sehingga intensitas banjir di wilayah rawan dapat terkendali dengan lebih baik. Keberhasilan tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk kembali menerapkan teknologi ini sebagai strategi pertahanan pertama melawan anomali cuaca.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, menegaskan bahwa OMC dilakukan untuk merespons banjir yang sempat menggenangi sejumlah wilayah pada Senin (12/1/2026). "BNPB baru mengadakan OMC hari ini. Langkah ini nantinya bisa dilanjutkan oleh BPBD DKI berdasarkan prediksi cuaca dari BMKG," jelas Isnawa di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Langkah intervensi langit ini memang sangat mendesak. Data terbaru dari BPBD DKI Jakarta mencatat bahwa genangan mulai berangsur surut setelah pada Senin malam mencapai puncaknya di 63 RT. Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI, Mohamad Yohan, mengungkapkan bahwa hingga Selasa pagi, banjir masih menyisakan genangan di 28 RT serta enam ruas jalan dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 60 sentimeter.

Meskipun banjir berangsur surut, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah terus memantau pergerakan cuaca melalui BMKG untuk memastikan operasi modifikasi cuaca tepat sasaran. Bagi warga Jakarta, operasi di langit ini diharapkan dapat memberi ruang napas lebih lega di tengah musim hujan yang masih mencapai puncaknya di awal tahun 2026 ini.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |