Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan menunjukan beberapa lukisan prasejarah di gua liang metanduno di kawasan karst gua kabori prasejarah di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/3/2023). Pihak Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan mendata awal jumlah gua prasejarah sekitar 48 lokasi dan diprediksi usia lukisan didalam gua-gua tersebut sekitar 40 ribu tahun.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemkab Muna menyatakan menyiapkan program darurat untuk menjaga kelestarian temuan lukisan gua tertua di dunia di Situs Leang Metanduno. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Hadi Wahyudi, dalam jumpa pers Kamis (22/1/2026).
Hadi tidak datang sendiri. Ia datang bersama sejumlah pejabat lokal. Mereka tampak bangga. Kerap tersenyum. Mereka datang ke BRIN mengenakan baju batik lokal dan ikat kepala khas Suku Muna yang berwarna emas.
Hadi menyampaikan apresiasi atas hasil penelitian yang dinilai membawa kebanggaan bagi masyarakat setempat. Namun ia akui tantangan terberat justru setelah pengumuman situs karena harus menjaga pelestarian dan perlindungan situs Leang Metanduno.
Fakta menariknya adalah, situs Leang Metanduno adalah gua dengan atap rendah dan mulut gua lebar. Sehingga pengunjung yang datang ingin melihat tidak perlu bersusah payah, karena lukisan dekat dengan kepala mereka. Ini juga berarti amat mungkin pengunjung menyentuh lukisan tersebut. Padahal, lukisan tertua di dunia itu sudah amat pudar, dan rentan hilang bila terkena sentuhan pengunjung.
Hadi mengatakan juru pelihara situs sudah diperintahkan membuat program darurat perlindungan situs. Ia tidak menjelaskan apakah itu mencakup melarang pengunjung untuk masuk ke gua. "Karena setelah ini pasti pengunjung akan meningkat. Harus dilindungi (lukisan tertua) segera pemda akan ambil langkah-langkah," kata dia.
Hadi menambahkan lokasi temuan berada di kawasan gua yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. “Harapannya, ke depan, statusnya dapat meningkat menjadi cagar budaya nasional, bahkan warisan dunia UNESCO,” katanya.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Hari Yogaswara dalam sambutannya juga menyuarakan kekhawatiran serupa. "Selain harus bangga, yang paling sulit adalah menjaga temuan ini," kata dia.
Ia mengajak seluruh pihak, tidak hanya BRIN dan Pemkab Muna untuk bersama menjaga kelestarian situs lukisan gua di Pulau Muna.

2 hours ago
3















































