Memberi di Tengah Kekurangan, Jejak Kedermawanan Malik bin Dinar

1 week ago 14

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Rasa lapar, sakit dan keinginan yang memuncak tidak selalu berakhir dengan pemuasan diri. Pada diri Malik bin Dinar, justru di situlah tampak kemuliaan akhlak, keteguhan iman dan kedermawanan yang jarang dimiliki manusia pada umumnya.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, Malik bin Dinar telah bertahun-tahun mulutnya tidak dilewati makanan yang manis maupun yang asam. Setiap malam ia pergi ke tukang roti dan membeli dua potong roti untuk berbuka puasa.

Kadang-kadang roti yang dibeli Malik bin Dinar masih terasa hangat; hal ini menghibur hatinya dan dianggapnya sebagai perangsang selera.

Pada suatu hari Malik bin Dinar jatuh sakit dan ia sangat ingin makan daging. Selama sepuluh hari keinginan itu masih dapat dikekangnya. Namun, ketika ia tidak mampu bertahan lebih lama lagi, pergilah ia ke sebuah toko makanan untuk membeli dua atau tiga potong kaki domba, lalu menyembunyikannya di lengan bajunya.

Pemilik toko itu kemudian menyuruh seorang pelayannya membuntuti Malik bin Dinar untuk menyelidiki apa yang hendak dilakukannya.

Tidak berselang lama, si pelayan toko kembali dengan air mata berlinang.

Si pelayan toko menyampaikan laporannya, “Dari sini ia (Malik bin Dinar) pergi ke sebuah tempat yang sepi. Di tempat itu dikeluarkannya kaki-kaki domba tersebut, diciumnya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, ‘Lebih daripada ini bukanlah hakmu.’ Setelah itu, roti dan kaki-kaki domba tersebut diberikannya kepada seorang pengemis."

Si pelayan toko melanjutkan ceritanya, "Kemudian ia (Malik bin Dinar) berkata lagi kepada dirinya sendiri, ‘Wahai jasad yang lemah, jangan kau sangka bahwa aku menyakitimu karena benci kepadamu. Hal ini kulakukan agar pada hari Kebangkitan nanti engkau tidak dibakar di dalam api neraka. Bersabarlah beberapa hari lagi, karena pada saat itu godaan ini mungkin telah berhenti dan engkau akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.’”

Pada suatu ketika Malik bin Dinar berkata, “Aku tidak mengerti apa maksud ucapan, ‘Jika seseorang tidak makan daging selama empat puluh hari, maka kecerdasan akalnya akan berkurang.’ Aku sendiri tidak pernah makan daging selama dua puluh tahun, tetapi semakin lama kecerdasan akalku justru semakin meningkat."

Malik bin Dinar al-Sami putera seorang budak berbangsa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan al-Bashri. Ia tercatat sebagai ahli Hadits Shahih dan merawikan Hadits dari tokoh-tokoh kepercayaan di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin. Malik bin Dinar adalah seorang ahli Kaligrafi Alquran yang terkenal. Ia meninggal sekitar tahun 130 H/ 748 M.

Read Entire Article
Politics | | | |