Oleh: Ghufron Mustaqim*)
Dunia baru-baru ini dikejutkan kembali oleh pembukaan dokumen pengadilan terkait kasus Jeffrey Epstein. Nama-nama besar di panggung bisnis global, seperti Bill Gates (Microsoft), Elon Musk (Tesla/X), hingga Sergey Brin (Google), terseret dalam pusaran dokumen tersebut.
Meski kadar keterlibatan mereka bervariasi, fakta bahwa tokoh-tokoh yang dianggap sebagai rujukan kewirausahaan modern ini bersinggungan dengan predator seksual yang mengeksploitasi lebih dari 1.000 anak perempuan di bawah umur, menyisakan lubang besar dalam narasi kesuksesan global.
Skandal ini menjadi alarm keras bagi kita untuk meninjau kembali fondasi sistem kapitalisme sekuler yang selama ini banyak diagungkan, termasuk oleh kalangan pengusaha.
Ada yang salah dalam cara kita mendefinisikan keberhasilan bisnis. Ketika kesuksesan hanya diukur dari kapitalisasi pasar dan kekayaan bersih (net worth), etika sering kali hanya menjadi catatan kaki yang mudah dihapus demi akumulasi materi.
Kegagalan paradigma materialistik
Para pengusaha di puncak piramida kapitalisme dikondisikan untuk mengejar pertumbuhan tanpa batas. Majalah Forbes, daftar orang terkaya, hingga berbagai penghargaan bisnis dunia menciptakan standar bahwa "pemenang" adalah mereka yang memiliki angka nol terbanyak di rekening banknya.
Dalam sistem yang memisahkan antara profit dan moralitas (sekuler), pengejaran materi ini sering kali menghalalkan segala cara. Dampaknya terlihat nyata di hadapan kita.
Krisis lingkungan yang akut, ketimpangan ekonomi yang ekstrem di mana 1 persen populasi menguasai hampir separuh kekayaan dunia, hingga konflik dan peperangan---itu semua merupakan buah dari manajemen bisnis yang bersifat eksploitatif.
Manusia dipandang hanya sebagai "konsumen" atau "faktor produksi" (benda), bukan subjek moral. Selain itu, tanpa rem etika yang kuat, pengusaha sukses sekalipun bisa terjebak dalam lingkaran pergaulan gelap, seperti lingkaran Epstein. Sebab, sistem tersebut tidak memberikan sanksi moral selama "nilai pemegang saham" tetap terjaga.
Islam Berkemajuan sebagai tawaran baru
Bagi umat Islam, paradigma materialistik harus didekonstruksi secara total. Kita memiliki mandat teologis yang jelas bahwa tujuan utama keberadaan manusia adalah ibadah (QS adz-Dzariyat: 56).
Maka, bisnis tidak boleh menjadi ruang hampa Tuhan. Bisnis adalah manifestasi ibadah dalam dimensi muamalah dunyawiyah.
Muhammadiyah, melalui konsep Islam Berkemajuan, menawarkan perspektif bahwa Islam adalah din al-hadlarah (agama peradaban). Islam yang hadir untuk membawa rahmat bagi semesta, menyemaikan benih keadilan, kemaslahatan, dan kemakmuran tanpa diskriminasi. Islam Berkemajuan mengelorakan misi anti-penindasan dan anti-pengrusakan alam.
Dalam pertemuan Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) beberapa waktu lalu, saya menawarkan konsep Pengusaha Berkemajuan sebagai alternatif dari definisi manajemen kapitalistik-sekuler. Inti dari konsep ini adalah Allah-centric entrepreneurship atau kewirausahaan yang berpusat pada Allah.
Pengusaha Berkemajuan tidak memisahkan antara iman dan bisnis. Secara epistemologis, pendekatan bisnisnya tidak hanya bersandar pada akal (aql) semata, tetapi juga dipandu oleh wahyu.
Ada tiga pilar utama yang membedakannya.
Pertama, orientasi al-falah. Berbeda dengan korporasi pada umumnya yang mengejar shareholder value maximization, Pengusaha Berkemajuan mengejar al-falah, yakni kesuksesan yang melampaui dunia hingga akhirat. Profit tetap dicari, tetapi ia berfungsi sebagai sarana untuk mencapai kemaslahatan publik, bukan tujuan akhir yang mematikan hati nurani.
Kedua, manusia sebagai Khalifah fil Ardh. Dalam sistem sekuler, pengusaha melihat alam sebagai sumber daya untuk dikeruk. Pengusaha Berkemajuan melihat dirinya sebagai steward (pengelola) yang bertanggung jawab atas kelestarian bumi. Bisnis yang merusak ekosistem atau mengeksploitasi buruh secara tidak manusiawi secara otomatis gugur dari kriteria "berkemajuan", meski keuntungan finansialnya triliunan.
Ketiga, menghormati prinsip syariah. Etika bisnis tidak didasarkan pada apa yang "legal secara hukum manusia", melainkan apa yang "benar menurut syariat". Hal ini mencegah terjadinya paradoks "Pak Haji" yang sukses berbisnis namun terlalu esploitatif dalam pertambangan dan perkebunan sehingga merusak alam dan tatanan masyarakat lokal.
Keluar dari inferioritas
Mengapa redefinisi ini penting? Tanpa definisi yang mandiri dan distinktif, pengusaha Muslim akan selalu merasa inferior. Mereka merasa gagal karena tidak bisa "sekaya" Elon Musk, padahal keterbatasan itu muncul lantaran mereka terikat oleh prinsip-prinsip halal-haram yang tidak dimiliki oleh pesaing sekulernya.
Kita harus berhenti menjadikan sosok yang secara moral cacat sebagai role model. Jika kita terus memaksa meniru kesuksesan materialistik tanpa mempedulikan cara mendapatkannya, kita hanya akan melahirkan pengusaha yang "berbaju Muslim" tetapi bermental predator.
Ketidaktelitian dalam memilih panutan inilah yang menyebabkan munculnya praktik-praktik bisnis yang kontradiktif dengan nilai Islam di tengah masyarakat kita.
Kasus Epstein adalah pengingat bahwa kekayaan tanpa iman hanya akan melahirkan monster. Pengusaha Berkemajuan harus menjadi identitas baru. Dengan Allah-centric entrepreneurship, kita tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun peradaban yang membebaskan manusia dari keterbelakangan dan ketidakadilan.
Jika makin banyak pengusaha yang mengadopsi definisi ini, insya Allah, masyarakat yang adil, damai, dan makmur akan lebih cepat terwujud.
*) Ghufron Mustaqim adalah Wakil Ketua LP UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU).

2 hours ago
3














































