
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Fungsionaris PP LPTNU PBNU
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Pilihan Tambakberas sebagai lokasi forum tertinggi NU layak dibaca lebih dari keputusan teknis. Tambakberas memiliki sejarah panjang dan keterhubungan erat dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Pesantren ini juga menjadi bagian penting dari mata rantai sejarah ulama dan pesantren yang ikut membentuk perjalanan Nahdlatul Ulama.
Pilihan tersebut dapat dibaca sebagai politik ingatan. Ingatan dalam kehidupan sebuah komunitas memiliki kemampuan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Seperti yang dijelaskan Jan Assmann (2011) bahwa memori kultural bekerja melalui simbol, teks, ritual, dan ruang yang memungkinkan suatu komunitas mempertahankan identitasnya lintas generasi. Dalam konteks NU, Tambakberas dapat dipandang sebagai ruang memori yang menghadirkan kembali jejak ulama, tradisi keilmuan, sanad, perjuangan, kebangsaan, dan pengabdian.
Dengan perspektif itu, lokasi Muktamar memiliki makna politik-kultural. Sebuah organisasi memilih ruang tertentu untuk mengingat siapa dirinya dan nilai apa yang ingin dibawa ke masa depan.
Akar Masa Depan
Tambakberas merupakan pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Jawa. Keterhubungannya dengan KH Abdul Wahab Chasbullah memberikan dimensi penting bagi penyelenggaraan Muktamar di tempat ini. Sejumlah pesantren besar di Jombang juga memiliki hubungan historis yang saling berkelindan dalam jaringan ulama dan pendidikan Islam.
Kehadiran Muktamar di Tambakberas menjadi semakin bermakna karena NU sedang memasuki abad kedua dengan persoalan yang jauh lebih kompleks. Transformasi digital, perubahan demografi, ekonomi umat, perkembangan pendidikan, perubahan pola otoritas keagamaan, politik kebangsaan, serta arus globalisasi telah mengubah lingkungan sosial tempat NU berkhidmat.
Di tengah perubahan itu, pesantren hadir sebagai ruang refleksi. Pesantren merupakan salah satu sumber penting bagi pembentukan karakter NU. Di dalamnya berlangsung transmisi ilmu, adab, sanad, kepemimpinan, dan pengabdian. Dari lingkungan pesantren lahir ulama, intelektual, aktivis sosial, dan pemimpin bangsa yang membawa nilai keislaman ke dalam kehidupan publik.
Karena itu, kembali ke pesantren dapat dibaca sebagai upaya menemukan kembali sumber legitimasi. Pertanyaan mengenai legitimasi menjadi penting ketika NU memasuki abad kedua. Organisasi sebesar NU memerlukan fondasi yang mampu menghubungkan sejarah dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Pesantren merupakan salah satu fondasi tersebut.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
4

















































