REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gang sempit itu tidak dibangun untuk tempat latihan atlet. Lebarnya pas untuk dua orang berpapasan, beralaskan aspal, dan ketika hujan turun, aktifitas harus ditunda. Namun, di sanalah Yoga Ardian, 35 tahun, membimbing anak-anak setempat merajut mimpi.
Gang Jalan Pluit Dalam III Penjaringan, Jakarta Utara itu Yoga sulap menjadi arena latihan akrobatik dan capoeira. Dengan semua keterbatasan, Yoga bertekad membuat tempat lahirnya itu sebagai pemantik buih semangat yang terus tumbuh.
“Dimulai sejak Covid-19 (2019). Awalnya cuma komunitas kecil-kecilan,” kata Yoga ketika ditemui Republika.co.id di gang RT 07/08 tersebut, Selasa, 13 Januari 2026.
Dari komunitas itu, Yoga kemudian mendirikan Indosalto, sebuah komunitas pelatihan gratis untuk anak-anak calon atlet. Di situlah Yoga mengamalkan semual bekal pengalamannya berkarir di dunia atletik selama 20 tahun.
Baginya, itu semua adalah panggilan moral. "Dari kecil saya memang sudah latihan di (gang) sini," kata dia.
Saat ini, Indosalto mulai dikenal banyak orang. Karena itu, Yoga dituntut melahirkan para talenta yang serius dan berdedikasi di bidang tersebut. Dari penjaringan alamiah, hanya delapan anak-anak yang kini aktif berlatih capoeira secara rutin.
"Jumlahnya memang tidak banyak, namun prosesnya panjang dan selektif. Banyak yang datang, sedikit yang bertahan," kata dia.
Pelatih privat akrobatik, cheerleader, dan capoeira itu mengakui, tantangan terbesar datang dari hal-hal paling sederhana. Hujan, misalnya. Gang yang terbuka membuat latihan harus menunggu cuaca membaik.
Peralatan penunjang juga seadanya. Tidak ada matras empuk atau alat bantu profesional. Semua diakali dengan kesabaran. “Bisa diakalin, tapi ya butuh sabar,” ujar Yoga.
Selama pelatihan, anak-anak tidak hanya ditempa secara fisik, tapi juga mentalnya. Sebab, kata dia, seorang atlet harus mampu menyeimbangkan antara kemampuan olah fisik dan mentalnya. “Sampai akhirnya dia sudah cukup bagus dan bisa mengajar,” kata Yoga.
Disiplin sebelum Lompatan
Anak-anak tidak langsung di latih dengan salto atau tumbling. Ada aturan yang tidak biasa untuk ukuran tempat latihan akrobatik. Anak-anak harus datang satu jam lebih awal.
“Sebelum latihan, mereka mengerjakan PR (dari sekolah) dahulu. Saya suruh selesaikan di sini,” ujar Yoga.
Hal itulah yang dijumpai Republika ketika mendatangi 'arena latihan' mereka pada Senin itu. Sebelum masuk waktu latihan pada pukul 15.00 WIB, sejumlah anak-anak sudah berkumpul di rumah Yoga. Mereka berdiskusi pelajaran yang tidak mereka pahami dan menyelesaikan tugas sekolah.
Bagi Yoga, latihan fisik tidak boleh mengorbankan pendidikan. Justru sebaliknya, latihan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sekolah.
Latihan sore dimulai dengan pemanasan, lalu tendangan, teknik tumbling, salto, dan latihan fisik seperti lompatan serta penguatan otot. Semuanya dilakukan bertahap, menyesuaikan kemampuan anak-anak.
Pendekatan itu membuat orang tua merasa lebih tenang. Beberapa dari mereka pun sering datang langsung untuk memantau. Warga sekitar pun bersyukur adanya Indosalto tersebut. Bagi mereka, lebih baik anak-anak berlatih daripada menghabiskan waktu dengan gawai tanpa arah.
Sore itu, Karlina atau Acil (9), terlihat serius menjalankan setiap sesi latihan. “Kalau aku sih sudah bisa banyak,” kata Acil polos. Ia menyebutkan satu per satu kemampuannya: salto depan, salto belakang, tumbling, hingga aerial.
Semangat yang sama juga terlihat pada Catherine (7) dan Adel (7) yang baru 6 bulan mengikuti latihan. Durasi latihan mereka berbeda dengan Acil yang sudah 2 tahun ikut Indosalto, namun semangat mereka sama.
Adel dan Catherine juga tidak kalah percaya diri. Salto depan, salto belakang, dan handstand sudah menjadi bagian dari latihan mereka. “Lumayan susah. Terutama bagi pemula," ujar Adel.
Namun kesulitan itu tidak membuat mereka berhenti. Soal cedera, anak-anak menyikapinya dengan santai. Pernah jatuh, pernah luka ringan, tapi tidak ada yang serius. “Lecet-lecet doang,” kata mereka sambil tertawa. Keberanian itu terbawa hingga ke arena lomba.
Menghasilkan Prestasi Gemilang
Beberapa anak asuh Yoga sudah merasakan atmosfer kompetisi. Acil pernah mengikuti battle tricking dan kejuaraan nasional kickboxing. Hasilnya tidak main-main: tiga emas dari battle tricking dan dua perak dari kejurnas kickboxing.
Adel dan Catherine juga mencicipi lomba capoeira. Keduanya meraih juara satu. Menariknya, saat ditanya soal perasaan sebelum lomba, mereka menjawab singkat. “Enggak deg-degan,” kata mereka.
Bagi Yoga, prestasi bukan tujuan akhir. Ia tidak menuntut medali. Ia menyiapkan anak-anak agar punya pilihan hidup. “Mereka yang nanti mutusin mau jadi apa,” ujarnya. “Bisa jadi atlet gimnastik, tricking, kickboxing, taekwondo, bela diri lain. Bahkan bisa jadi aktor.”
Harapannya sederhana, namun jarang: murid-muridnya bisa lebih hebat darinya. Bukan hanya secara skill individu, tapi juga kemampuan melatih dan menyebarkan ilmu ke orang lain.
Anak-anak menjawab ketulusan Yoga dengan cara mereka sendiri. Saat diminta menyampaikan pesan, mereka tidak bicara soal prestasi.
“Semoga Kak Yoga sehat-sehat terus,” kata mereka bersamaan.
“Semoga Indosalto makin maju.”
“Semoga Kak Yoga enggak bosan ngelatih kita yang bandel-bandel ini.”

4 hours ago
5














































