Dari ke kanan: Logo Facebook, Whatsapp, dan Instagram. Ribuan pengguna Instagram melaporkan penerimaan email permintaan pengaturan ulang kata sandi (password reset) secara massal dan tiba-tiba.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Platform media sosial Instagram baru-baru ini menjadi pusat perhatian setelah ribuan penggunanya melaporkan penerimaan email permintaan pengaturan ulang kata sandi (password reset) secara massal dan tiba-tiba. Fenomena ini memicu kekhawatiran luas mengenai potensi kebocoran data besar-besaran.
Menanggapi situasi tersebut, pihak Instagram dan induk perusahaannya, Meta, secara tegas membantah adanya serangan siber terhadap sistem internal mereka, meskipun banyak pakar keamanan meragukan pernyataan tersebut. Dalam penjelasan resminya, Instagram mengakui adanya gangguan teknis namun menolak menyebutnya sebagai kebocoran data.
"Kami telah memperbaiki masalah yang memungkinkan pihak eksternal meminta email pengaturan ulang kata sandi untuk beberapa orang. Tidak ada pelanggaran pada sistem kami," kata perusahaan tersebut dikutip dari laman BBC pada Selasa (13/1/2026).
Namun, Instagram tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai siapa "pihak eksternal" yang dimaksud atau bagaimana mereka bisa memicu pengiriman email resmi dari platform tersebut kepada jutaan pengguna sekaligus. Ketidakjelasan ini memicu kebingungan bagi ribuan orang di media sosial, terutama setelah firma keamanan siber ternama, Malwarebytes, mengeluarkan peringatan keras melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter).
Dilansir laman Gulf News, Malwarebytes mengeklaim bahwa email pengaturan ulang kata sandi tersebut merupakan dampak langsung dari pencurian data sensitif. “Penjahat siber mencuri informasi sensitif dari 17,5 juta akun Instagram, termasuk nama pengguna, alamat fisik, nomor telepon, alamat email, dan banyak lagi,” klaim perusahaan tersebut.

2 hours ago
2













































