Cacar air (ilustrasi). Ada beberapa mitos tentang cacar air.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit cacar air atau varicella sering kali dikelilingi oleh berbagai mitos yang dipercaya secara turun-temurun. Salah satu yang paling populer adalah anjuran meminum air kelapa untuk "mengeluarkan" cacar atau mengurangi rasa gatal.
Menanggapi hal ini, Anggota UKK Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr dr Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K), menjelaskan meski air kelapa kaya akan elektrolit seperti kalium, belum ada bukti medis yang kuat mengenai efektivitasnya dalam menangani cacar. "Belum ada bukti ya bahwa air kelapa mengurangi gatal," ujarnya dalam seminar media online dengan topik "Mengenal Lebih Jauh Herpes Zooster dan Cacar pada Anak" pada Selasa (13/1/2026).
Mitos lain yang sering merugikan pasien adalah larangan mandi. Banyak orang tua khawatir mandi akan membuat bintil cacar pecah atau menyebar. Padahal, dr Ratni menegaskan bahwa anak yang terkena cacar justru harus tetap mandi. Jika tidak mandi, risiko infeksi sekunder akan meningkat dan dapat memicu timbulnya miliaria atau keringat buntet yang justru memperparah rasa tidak nyaman. "Anak pada saat cacar itu harus dimandikan, karena kalau tidak mandi, itu malah bisa timbul seperti miliaria atau keringat buntet," kata dia.
Untuk menjaga agar bekas cacar tidak permanen, kuncinya bukan pada tidak mandi, melainkan menjaga agar vesikel (bintil air) tidak pecah secara paksa atau digaruk. "Yang penting jangan digaruk. Vesikelnya jangan diapain, biarkan dia pecah sendiri, menguncung sendiri, nanti kulitnya tetap mulus," kata dia.
Terkait anggapan bahwa cacar hanya menyerang sekali seumur hidup dan memberikan kekebalan permanen, dr Ratni memberikan klarifikasi penting. Virus varicella sebenarnya tidak benar-benar hilang dari tubuh setelah sembuh. Dia akan tetap "diam" di dalam tubuh dan dapat mengalami reaktivasi di kemudian hari saat daya tahan tubuh menurun, yang kemudian muncul sebagai herpes zoster. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh tetap prima adalah perlindungan jangka panjang yang utama.
"Istilah pernah kena lalu kebal seumur hidup itu tidak benar ya, karena virus tersebut bisa reaktivasi jika daya tahan tubuh turun," ujarnya.

2 hours ago
3














































