Mufti Menk: Tawakal yang Benar Harus Dibarengi dengan Usaha Maksimal

2 hours ago 1

Mufti Ismail Menk.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Dai internasional Mufti Menk mengingatkan bahwa tawakal tidak berarti pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, iman yang benar harus diwujudkan melalui ikhtiar maksimal dalam kehidupan, mulai dari bekerja, belajar, hingga membangun rumah tangga.

Saat memberikan ceramah dalam acara Connect 2026, Mufti Menk menyoroti kesalahpahaman sebagian umat yang berlindung di balik takdir untuk menutupi kemalasan. Padahal, Allah SWT telah memberikan manusia kapasitas dan kemampuan terbatas yang wajib digunakan secara optimal.

“Kamu menginginkan sesuatu? Bangkit dan raihlah. Bekerja keraslah. Bangkit dan lakukan sesuatu untuk mengubahnya,” ujar Mufti Menk di hadapan ribuan Jamaah di panggung utama ICE BSD Hall 2, Tangerang, Sabtu (24/1/2026).

Ia mengutip hadits Nabi Muhammad SAW:

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

Ihrish ‘ala ma yanfa‘uk

Artinya: “Bersungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu.”

Menurut Mufti Menk, prinsip tersebut berlaku dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan. “Bahkan jika kamu ingin menikah, kamu harus bangkit dan membuka mulutmu. Kamu harus berbicara. Jika kamu tidak berbicara, kamu akan kalah,” katanya.

Mufti Menk juga menegaskan perbedaan antara ketidakmampuan dan kemalasan. Jika seseorang benar-benar tidak mampu, Allah SWT tidak akan membebaninya. Namun, jika seseorang mampu tetapi memilih untuk bermalas-malasan, hal itu tidak dapat dijadikan alasan.

“Yang satu adalah kemalasan, dan yang lainnya adalah ketidakmampuan. Maka Allah Yang Maha Kuasa berfirman kepada kita, ‘Jika kamu tidak mampu, Aku tidak akan memintamu. Bertawakallah kepada Allah,’” kata dai asal Zimbabwe tersebut.

Read Entire Article
Politics | | | |