Oase di Tengah Lumpur, Kala LPBI PBNU 'Menyulap' Air Sungai Jadi Harapan

2 weeks ago 19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernahkah Anda membayangkan harus bertahan hidup di tengah sisa-sisa banjir, namun tak memiliki setetes pun air bersih untuk sekadar membasuh luka atau menanak nasi? Di Kota Padang, jeritan sunyi warga bukan lagi soal harta yang hanyut, melainkan tentang dahaga yang mencekik saat pipa-pipa PDAM lumpuh total tersumbat lumpur. Di tengah keputusasaan itu, sebuah mobil putih besar datang membawa keajaiban teknis, mengubah aliran sungai yang keruh menjadi air jernih yang membasuh kecemasan ribuan jiwa.

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) merupakan garda terdepan organisasi NU yang mengemban mandat di bidang manajemen bencana, lingkungan hidup, dan perubahan iklim.

Sebagai tangan kemanusiaan bagi jutaan warga Nahdliyin, lembaga ini tidak hanya bergerak saat tanggap darurat, tetapi juga fokus pada mitigasi dan pemulihan pascabencana. Dengan pendekatan berbasis komunitas dan didukung armada teknologi modern, LPBI PBNU hadir untuk memastikan bahwa nilai-nilai kerahmatan Islam menjelma dalam aksi nyata perlindungan nyawa dan pelestarian alam.

Anggota LPBI PBNU, Beny Syaaf Jafar, menceritakan bahwa mobil sanitasi air bersih tersebut kini tengah berjibaku di sekitar Sungai Guo, Kecamatan Kuranji. Air sungai yang semula cokelat pekat dan sama sekali tak layak konsumsi, diproses secara teliti melalui sistem penyulingan hingga menjadi air bersih yang aman digunakan, bahkan diklaim layak untuk langsung diminum.

Kehadiran unit ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi Sumatera Barat yang masih terluka hebat. Pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda pada pengujung 2025 lalu, bentang alam wilayah ini berubah drastis menjadi hamparan lumpur dan puing. Infrastruktur vital seperti jalan lintas dan jembatan banyak yang terputus, membuat akses logistik ke daerah pelosok di Padang, Agam, hingga Tanah Datar sempat terhambat total.

Di sisi lain, trauma psikologis warga masih membekas dalam karena kehilangan rumah dan sumber penghidupan dalam sekejap. Penyakit kulit dan pencernaan mulai mengintai di pengungsian akibat minimnya akses sanitasi. Krisis air bersih menjadi ancaman kedua setelah banjir, memaksa warga bergantung pada bantuan tangki air yang jumlahnya sangat terbatas dibandingkan kebutuhan ribuan keluarga yang terdampak.

“Tujuan pengiriman mobil sanitasi air bersih ini tentu untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar. LPBI NU memiliki fasilitas mobil sanitasi mandiri yang dapat dimanfaatkan secara fleksibel dalam kondisi darurat seperti ini,” ujar Beny dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).

Beny menjelaskan, pemilihan lokasi operasional di Sungai Guo dilakukan berdasarkan rekomendasi strategis dari Sekretaris PWNU Sumatera Barat. Selama dua hari beroperasi, mobil tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus tumpuan warga setempat yang sudah berhari-hari kesulitan mendapatkan air layak.

Read Entire Article
Politics | | | |