REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi orang tua tunggal (single parent) bukanlah perjalanan yang mudah. Ketika Anda akhirnya siap untuk membuka hati dan memulai lembaran baru dengan pasangan, muncul satu tantangan besar lainnya yaitu bagaimana cara mengenalkan "sosok baru" kepada anak?
Psikolog anak dan keluarga, Astrid Wen, mengatakan hubungan yang sehat dalam keluarga perlu dibangun atas kepercayaan, koneksi emosional, penerimaan, dan interaksi yang baik. Karena itu, ketika orang tua tunggal memiliki pasangan baru, proses pengenalan kepada anak tidak boleh dilakukan secara terburu-buru, melainkan harus bertahap.
"Misalnya mulai dari hadir sebagai teman parent yang suportif. Secara natural memberikan waktu bagi anak dan pasangan parent untuk saling mengenal satu sama lain dahulu," kata Astrid saat dihubungi Republika, Rabu (17/6/2026).
Menurut Astrid, pada anak usia balita, proses adaptasi biasanya lebih mudah karena mereka belum sepenuhnya memahami konsep relasi romantis orang dewasa. Selama rasa aman, rutinitas, dan kenyamanan tetap terjaga, anak balita cenderung lebih mudah menerima perubahan dibandingkan anak yang lebih besar atau remaja.
Astrid mengatakan dari sisi batasan, anak balita belum memahami konsep personal space, sementara anak yang lebih besar sudah memiliki kesadaran akan hal tersebut. Jika anak belum siap menerima kehadiran pasangan, orang tua dianjurkan untuk bersabar, memberi waktu, serta tetap merangkul anak dengan tulus sambil menghargai batasan yang mereka rasakan.
"Berikan waktu agar rasa aman dan kepercayaan anak bertumbuh dahulu. Berusaha memenangkan relasi romantis dewasa diatas relasi orangtua dan anak dapat beresiko pada terabaikan kebutuhan emosi anak dan rusaknya kepercayaan anak ke orang tua," kata dia.
Adapun pada anak-anak yang lebih dan remaja, mereka umumnya memiliki kemampuan lebih cepat dalam mendeteksi dan memahami sosok orang dewasa di sekitar mereka. Jika anak mulai bertanya, orang tua disarankan meluangkan waktu pribadi untuk menjelaskan kondisi hubungan secara baik dan tepat.
Setelah anak memahami bahwa sosok tersebut adalah pasangan baru orang tua dan dapat menerimanya, barulah kehadiran pasangan bisa dibuat lebih konsisten dalam kehidupan keluarga. "Tapi kalau semisal anak belum siap menerima pasangan parent, parent dapat mendiskusikan hal ini kepada pasangannya dan mengambil keputusan strategi untuk membangun kepercayaan dan interaksi yang lebih positif," kata Astrid.
Dia juga menekankan bahwa anak mungkin membutuhkan waktu untuk memahami perubahan dalam struktur keluarga, termasuk menerima hadirnya sosok baru dalam kehidupan orang tua. Karenanya, orang tua diimbau tidak memaksakan kehadiran pasangan atau tergesa-gesa memberikan peran sebagai orang tua baru.

4 hours ago
9
















































