Pascalibur Nataru, Super Flu Dikhawatirkan Meledak di Yogyakarta

3 hours ago 4

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah bersama Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular, dan Imunisasi Dinkes Yogyakarta, Endang Sri Rahayu menyampaikan soal Super Flu.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Penyakit Influenza A H3N2 Subclade K atau yang dikenal dengan super flu dikhawatirkan berpotensi merebak di Kota Yogyakarta pascalibur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Kekhawatiran ini muncul seiring tingginya mobilitas dan lonjakan kunjungan wisatawan dari berbagai daerah yang memadati Yogyakarta selama masa libur akhir tahun tersebut.

Masuknya jutaan wisatawan itu tak menutup kemungkinan terhadap adanya celah potensi masuk dan menyebarnya penyakit menular super flu. Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah meminta masyarakat untuk tidak panik berlebihan.

Lana menyebut masa setelah libur panjang menjadi periode krusial untuk pemantauan kesehatan masyarakat. "Bisa iya (jadi celah potensi masuk dan menyebarnya penyakit menular super flu -Red), tetapi  bisa juga tidak," kata Lana, Sabtu (10/1/2026).

Ia menjelaskan, masa inkubasi virus influenza berkisar antara satu hingga dua minggu setelah paparan. Dengan kondisi Yogyakarta yang baru saja menerima jutaan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru, potensi penularan penyakit saluran pernapasan di lokasi-lokasi keramaian menjadi perhatian. 

Hingga kini hanya tercatat satu kasus super flu di Yogyakarta. Itu saja terjadi pada September 2025 lalu. Pasien tersebut telah dinyatakan sembuh total setelah menjalani perawatan di RSUP Sardjito, Sleman.

Lana menyebut bahwa seluruh fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta, belum mendapati laporan tambahan terkait kasus super flu. Meski belum ditemukan kasus baru, kewaspadaan tetap ditingkatkan, termasuk pemantauan terhadap warga dan wisatawan yang mengalami gejala demam, batuk, pilek, atau sakit kepala pascaperjalanan.

"Masa inkubasi virusnya 1-2 minggu. Bisa jadi potensi itu ada, tapi kita tidak bisa memastikan (karena belum ada laporan tambahan kasus -Red)," ucap Lana.

"Masih sama jumlah kasusnya. (Pemantauan) sama juga kalau misalnya kita pulang umroh, haji itu kan ada kewaspadaan ya. Jadi dalam dua sampai tiga minggu itu jika ada yang mengalami gejala-gejala seperti batuk, pilek, demam, kemudian sakit kepala dan sebagainya itu dilakukan pemantauan oleh teman-teman di lapangan," kata dia.

Read Entire Article
Politics | | | |