Pengakuan WNI Tentang Kondisi di Teheran, Kondisi Mereda, Upaya Penggulingan Khamenei Gagal

3 hours ago 3

Para pelayat membawa peti mati selama prosesi pemakaman untuk anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang dilaporkan tewas dalam protes pada hari Ahad, di tengah gejolak anti-pemerintah yang terus berkembang, di Teheran, Iran, 11 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Situasi kegentingan keamanan di Iran dikabarkan mulai mereda. Direktur Eksekutif Middle East Foresight dan Pengajar Tamu Kajian Asia Tenggara di Universitas Tehran Purkon Hidayat mengatakan sampai Selasa (13/1/2026) tak ada imbauan dari Pemerintah Indonesia untuk meninggalkan negara itu ataupun evakuasi.

Purkon mengatakan puncak ‘anarkisme’ dan pemaksaan politik asing terhadap negara tersebut sudah mulai surut. “Setahu saya belum ada imbauan warga Indonesia untuk meninggalkan Iran,” kata Purkon saat berkomunikasi dengan Republika dari Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Purkon saat ini berbasis tinggal di Tehran, ibu kota Iran. Konsentrasi warga negara Indonesia di Iran, berada di Provinsi Qom, beberapa kilometer (Km) dari Teheran. Dominasi warga negara Indonesia di wilayah tersebut adalah kalangan akademis, mahasiswa maupun pelajar.

Purkon mengakui aksi unjuk rasa ribuan orang dari kalangan oposisi belakangan memang merebak ke banyak kota di negara itu. Demonstrasi massal tersebut punya tujuan untuk mengakhiri pemerintahan teokrasi Iran yang menguasai negara itu sejak 1979. Massa menghendaki pengembalian rezim Shah Iran yang lebih terbuka dan liberal.

Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian menuding aksi-aksi massal tersebut disusupi kepentingan politik dari negara-negara asing yang selama ini menghendaki penggulingan kekuasaan Wali Agung Ayatullah Ali Khamenei. Beberapa aksi demonstrasi berujung pada aksi baku tembak dengan satuan keamanan.

Ratusan pendemo, maupun pasukan keamanan dikabarkan tewas dalam rangkaian demonstrasi yang berujung kerusuhan itu. Otoritas keamanan Iran, pun menangkapi ribuan orang, dan mengeklaim menangkap banyak mata-mata dari Israel yang turut ambil bagian dalam demonstrasi-demonstrasi kerusuhan di negara itu.

Pada Jumat (9/1/2025) dan Sabtu (10/1/2026) aksi tandingan dari kelompok massa yang mendukung pemerintahan Iran, pun turun ke jalan. Jutaan massa pendukung Ali Khamenei melakukan unjuk rasa menentang tuntutan oposisi, dan mengecam negara-negara asing yang ikut campur dengan urusan internal Iran.

Purkon melanjutkan, puncak dari rentetan unjuk rasa tersebut menyimpulkan masih kuatnya dukungan masyarakat Iran terhadap pemerintahan saat ini. “Kemarin itu ada pawai propemerintah, jutaan orang turun ke jalan mengecam (oposisi) kelompok perusuh,” kata Purkon.

Menurut dia, jika kelompok pendukung pemerintah sudah turun ke jalan menandingi massa oposisi, artinya situasi keamanan dan krisis politik di Iran mulai mereda. “Biasanya kalau sudah aksi massa (tandingan) begitu, kondisinya akan mereda,” ujar Purkon.

Read Entire Article
Politics | | | |