Percepatan Penyaluran Beras SPHP 2026

2 weeks ago 21

Oleh : Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI

REPUBLIKA.CO.ID, Target penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2025 dapat dipastikan tidak tercapai. Dari target sekitar 1,3 - 1,5 juta ton, hanya mampu disalurkan kurang dari 1 juta ton. Ketidak-optimalan penyaluran beras SPHP ini menarik untuk diselami lebih dalam sekaligus mencari penyebab, mengapa hal ini sampai terjadi.

Penyaluran beras SHPP baru mencapai 802.939 ton (53,5 %) sampai saat ini. Angka tersebut masih di bawah target penyaluran sepanjang tahun 1,5 juta ton. Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Ahmad Rizal Ramdhani belum lama ini mengatakan realisasi SPHP sampai dengan akhir tahun 2025 hanya mampu disalurkan sekitar 803 tibu ton.

Berdasarkan pengamatan menyeluruh, ada beberapa alasan penyaluran beras SPHP belum optimal. Pertama, penyaluran SPHP hanya berjalan pada Januari-Februari, lalu berhenti di Maret-Juni, dan kembali berjalan di Juli. Kedua, fokus penyaluran dilakukan di sentra produksi beras yang dapat menekan harga gabah petani.

Dihadapkan pada kondisi demikian, Bulog berencana tahun 2026 penyaluran beras SPHP akan dilakukan sepanjang tahun dari Januari hingga Desember. Selain itu, fokus penyaluran tetap diarahkan di daerah non-sentra produksi untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi petani. Dengan strategi baru ini, diharapkan penyaluran SPHP dapat lebih efektif dan mencapai target yang ditetapkan.

Seperti yang diketahui, beras SPHP adalah program pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Bulog ditugaskan untuk menyalurkan beras SPHP ke masyarakat dengan harga yang terjangkau. Saat ini, ada 1,5 juta ton beras SPHP yang siap disalurkan ke pasar untuk periode Juli-Desember 2025.

Beras SPHP disalurkan melalui 7 jenis outlet resmi penyaluran beras SPHP, yaitu pengecer di pasar rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Pemerintah Daerah melalui outlet pangan binaan dan GPM (Gerakan Pangan Murah), BUMN melalui outlet BUMN, instansi pemerintah (TNI dan POLRI) melalui koperasi atau GPM, RPK (Rumah Pangan Kita) Perum BULOG, dan ritel.

Adanya fakta bahwa beras SPHP baru tersalurkan sekitar 53,5 % karena terkendala adanya beberapa faktor, seperti adanya tantangan geografis. Wilayah seperti Papua dan Pegunungan Bintang sulit dijangkau, sehingga distribusi terhambat.

Bisa juga karena harga tinggi. Beberapa daerah masih mengalami harga beras yang tinggi, membuat distribusi lebih sulit. Bahkan terjadi karena distribusi belum merata. Beras SPHP belum tersedia di semua daerah, membuat beberapa masyarakat kesulitan mendapatkannya.

Namun begitu, Bulog optimistis bisa mencapai target 1,5 juta ton dengan bantuan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Mereka terus bekerja keras untuk menyediakan beras SPHP ke masyarakat dengan harga terjangkau. Pertanyaan kritisnya adalah apakah dalam waktu beberapa hari ke depan Bulog akan mampu menyalurkannya ?

Read Entire Article
Politics | | | |