Pilu Korban Banjir Bandang di Tanah Serambi Mekkah Diceritakan Nakes Asal KBB

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pilu masih dirasakan korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh yang masih berada di tempat pengungsian. Nasib mereka masih terkatung-katung usai rumahnya tersapu bencana banjir bandang yang terjadi akhir November 2025.

Kondisi itu diceritakan Agus Nurjaman (37), perawat asal Desa Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat yang menyaksikan betapa perihnya kehidupan korban yang berada di pengungsian usai banjir menerjang.

Agus yang bertugas sebagai perawat di RSUD Cililin, Bandung Barat itu diberangkatkan pada 4 Januari 2025 dan tiba di Tanah Serambi Mekkah pada 5 Januari 2025 bersama Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) lainnya Batch 2 yang dimobilisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Ia akan bertugas selama 14 hari ke depan untuk membantu pemulihan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.

"Yang bikin nyesek rumah mereka habis semua, terus pohon-pohon gede (gelondongan) nabrak bangunan mereka makanya sampai rumah mereka hilang," kata Agus yang menceritakan ketika pertama kali berkeliling di Aceh Tamiang kepada Republika saat dihubungi, Senin (12/1/2026).

Agus berada di Desa Sukajadi, Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Menurutnya, ada sekitar 1.400 jiwa lebih di wilayah tersebut yang berada di posko pengungsian. Ia berkeliling ke posko pengungsian untuk memeriksa dan memastikan kondisi korban bencana dalam keadaan baik-baik saja.

Agus juga banyak mendengar cerita dan keluh kesah dari para korban yang pada dasarnya ingin segera memiliki rumah baru tapi kebingungan harus memulai darimana. Sebab, harta benda mereka ikut lenyap tersapu banjir bandang.

"Selama ini mereka yang paling mendasar pengen tempat tinggal karena enggak mungkin lama-lama di pengungsian. Kehidupan mereka kan bukan dari nol lagi, tapi minus," kata Agus.

Dari sisi kesehatan, ungkap Agus, keluhan yang paling banyak ditemui ialah gatal-gatal hingga mengalami inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sedangkan untuk ketersediaan obat-obatan dan tenaga kesehatan menurutnnya masih mencukupi karena susah disesuaikan dengan kondisi wilayah oleh Kemenkes.

"Korban kebanyakan gatal-gatal dan ISPA. Karena kan kalau kemarau lumpur itu jadi debu beterbangan. Kalau obat-obatan alhamdulillah karena kita disuplay langsung dari Kemenkes, termasuk SDM sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Seperti dokter spesialis dan lainnya," terang Agus.

Agus merasa beruntung menjadi bagian dari tenaga kesehatan yang turut ambil bagian dalam pelayanan kesehatan bagi penyintas korban banjir khususnya yang berada di pengungsian. Keinginannya terjun langsung ke lokasi bencana sudah ada dibenak Agus setelah melihat dahsyatnya bencana melalui pemberitaan maupun media sosial.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika Kemenkes menerjunkan tenaga kesehatan cadangan yang bergantian bertugas di lokasi bencana. Agus pun tentunya meminta restu dari keluarga khususnya kedua anak dan istrinya.

"Awalnya (keluarga) agak berat karena sisi lain saya punya anak 2, istri walaupun sama-sama tenaga kesehatan tetap ada beratnya ditinggal suami. Tapi alhamdulillah saya berangkat karena dari awal pengen terjun, kemanusiaan," ujar Agus.

Sehingga perawat yang berstatus sebagai Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu itu akan mengabdikan kemampuannya untuk membantu korban bencana alam di Aceh Tamiang selama dua pekan penugasan dari Kemenkes.

"Jadi awalnya saya berangkat ke sini saya punya sedikit ilmu dan keahlian, ingin berguna buat masyarakat di sini. Saya ingin bener-bener totalitas penuh membantu masyarakat langsung," tandas Agus.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Lia Nurliana Sukandar mengatakan, keterlibatan tenaga kesehatan dari KBB bagian dari dukungan terhadap transformasi sistem kesehatan nasional yang dicanangkan Kemenkes.

Salah satu tujuan transformasi tersebut adalah membangun sistem ketahanan kesehatan yang tangguh, termasuk penguatan penanganan bencana dan kedaruratan kesehatan.

"Penyiapan sumber daya manusia yang kompeten dan siap dimobilisasi sewaktu-waktu menjadi indikator penting keberhasilan sistem ini," kata Lia.

Ia menambahkan, pengembangan program Tenaga Cadangan Kesehatan menjadi terobosan Kementerian Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan saat terjadi krisis.

"Alhamdulillah, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat dapat berpartisipasi melalui penugasan salah satu perawat RSUD Cililin, Kang Agus Nurjaman," katanya. 

Read Entire Article
Politics | | | |