Pilu Korban Banjir di Aceh Diceritakan Nakes Asal Bandung Barat: Kehidupan Mereka Dimulai dari Minus

3 hours ago 4

Agus Nurjaman (37), Perawat Asal Kabupaten Bandung Barat Diterjunkan ke Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh untuk Pelayanan Kesehatan bagi Korban Banjir.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pilu masih dirasakan korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh yang masih berada di tempat pengungsian. Nasib mereka masih terkatung-katung usai rumahnya tersapu bencana banjir bandang yang terjadi akhir November 2025.

Kondisi itu diceritakan Agus Nurjaman (37 tahun), perawat asal Desa Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat yang menyaksikan betapa perihnya kehidupan korban yang berada di pengungsian usai banjir menerjang. Agus yang bertugas sebagai perawat di RSUD Cililin, Bandung Barat itu diberangkatkan pada 4 Januari 2025 dan tiba di Tanah Serambi Mekkah itu pada 5 Januari 2025 bersama Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) lainnya Batch 2 yang dimobilisasi oleh Kementerian Kesehatan RI. Ia bertugas selama 14 hari ke depan untuk membantu pemulihan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.

"Yang bikin nyesek rumah mereka habis semua, terus pohon-pohon gede (gelondongan) nabrak bangunan mereka, makanya sampai rumah mereka hilang," kata Agus yang menceritakan ketika pertama kali berkeliling di Aceh Tamiang kepada Republika saat dihubungi, Sabtu (10/1/2026).

Agus berada di Desa Sukajadi, Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang. Menurutnya, ada sekitar 1.400 jiwa lebih di wilayah tersebut yang berada di posko pengungsian. Ia berkeliling ke posko pengungsian untuk memeriksa dan memastikan kondisi korban bencana dalam keadaan baik-baik saja.

Agus juga banyak mendengar cerita dan keluh kesah dari para korban yang pada dasarnya ingin segera memiliki rumah baru tapi kebingungan harus memulai dari mana. Sebab, harta benda mereka ikut lenyap tersapu banjir bandang.

"Selama ini mereka yang paling mendasar pengen tempat tinggal karena enggak mungkin lama-lama di pengungsian. Kehidupan mereka kan bukan dari nol lagi, tapi minus," kata Agus.

Read Entire Article
Politics | | | |