REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rahasia Profesionalisme Gontor di Era Disrupsi
Di tengah persaingan dunia pendidikan yang kian sengit, profesionalisme sering kali terjebak dalam definisi yang sempit: kecakapan teknis, efisiensi mesin, dan capaian material.
Lembaga pendidikan berlomba-lomba mengejar produktivitas, namun ironisnya, sering kali kehilangan fondasi nilai yang seharusnya menjadi nyawa dari sebuah pengabdian. Di titik nadir komersialisasi inilah, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) hadir dengan antitesis yang memikat melalui pendekatan "Insan Wakaf".
Sejak memancangkan fondasinya pada 1926, Gontor memilih jalan sunyi yang kokoh: mengelola seluruh napas lembaganya di atas sistem wakaf. Model ini bukan sekadar urusan legalitas aset, melainkan jantung yang memompa etos kerja khas berakar pada spiritualitas. Di sini, bekerja melampaui rutinitas administratif; ia adalah amanah yang sakral. Profesionalisme di Gontor tidak lahir dari tekanan sistem insentif, melainkan dari kesadaran moral yang mendarah daging.
Napas kerja tersebut dirumuskan dalam Panca Jiwa: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kelima prinsip ini bukanlah pajangan normatif di dinding kantor, melainkan praktik hidup yang berdenyut dalam setiap unit usaha pesantren, mulai dari sawah, percetakan, hingga tata kelola SDM. Gontor membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu mandiri secara ekonomi tanpa harus menggadaikan idealisme kepada pasar.
Keunikan etos kerja berbasis wakaf ini bukan lagi sekadar testimoni, melainkan telah teruji secara akademik. Sebuah tim peneliti dari Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor yang terdiri dari Mufti Afif, Arie Rachmat Sunjoto, Khurun’in Zahro’, dan Winda Roini, melakukan bedah mendalam terhadap fenomena ini. Riset mereka memfokuskan pada satu pertanyaan besar: bagaimana nilai pesantren bertransformasi menjadi model profesionalisme yang relevan bagi tantangan modern?
Hasil penelitian tersebut menyingkap tabir menarik: profesionalisme di Gontor tidak dibangun melalui paksaan struktural, melainkan lewat internalisasi nilai dan kekuatan keteladanan (exemplification). "Nilai-nilai kerja ditransmisikan melalui contoh nyata para pengelola wakaf dan pimpinan pesantren. Dari situlah etos kerja terbentuk secara alami," jelas Mufti Afif. Keikhlasan bertindak sebagai fondasi, sementara disiplin dan tanggung jawab muncul sebagai konsekuensi moral yang logis.
Lebih jauh, riset ini mencatat keberhasilan Gontor dalam menghidupkan aset wakaf secara produktif. Sektor pertanian, jasa, hingga manufaktur dikelola dengan manajemen modern, namun seluruh hasilnya dikembalikan untuk membiayai pendidikan dan pengabdian sosial. Wakaf di Gontor bukan aset pasif yang membeku; ia adalah instrumen ekonomi dinamis yang menopang kemandirian institusi secara berkelanjutan.
Pendekatan ini mulai mencuri perhatian para akademisi global. Gontor dinilai sukses mengawinkan etika kerja Islam dengan sistem manajemen kontemporer tanpa kehilangan jati diri. Karakter "Insan Wakaf" yang disiplin, tangguh, dan loyal adalah produk nyata dari sistem yang menempatkan pengabdian sebagai inti kerja. Karakter ini membuktikan bahwa integritas adalah mata uang paling berharga dalam profesionalisme sejati.
Pada akhirnya, temuan riset ini memberikan pesan kuat bagi dunia pendidikan luas: profesionalisme berbasis nilai bukanlah sebuah utopia. Ia adalah praktik nyata yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang konsisten dan memiliki loyalitas tinggi. Gontor telah memberikan cetak biru bahwa ketika kerja dipahami sebagai ibadah, maka efisiensi dan kualitas akan mengikuti dengan sendirinya sebagai buah dari ketulusan.

2 hours ago
3














































