Rahasia Ribosom

2 hours ago 2

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika telomer adalah pagar, dan autofagi adalah petugas kebersihan, maka ribosom adalah tukang bangunan. Ia tidak menjaga batas, tidak pula membersihkan sampah. Tugasnya satu: membangun ulang kehidupan, setiap detik, tanpa henti, tanpa sorotan.

Di dalam setiap sel manusia, terdapat jutaan ribosom — pabrik protein paling kecil sekaligus paling sibuk di alam semesta biologis. Mereka bekerja seperti buruh malam yang tak pernah masuk berita.

Tanpa ribosom, tidak ada otot, tidak ada enzim, tidak ada antibodi, tidak ada ingatan. Bahkan tidak ada detak jantung yang stabil. Setiap protein dalam tubuh — dari yang menggerakkan kelopak mata hingga yang menambal luka — dibuat oleh ribosom.

Tubuh manusia hidup karena ribosom tidak pernah mogok. Dr Venkatraman Ramakrishnan, peraih Nobel Kimia 2009, membuka tabir besar tentang makhluk mungil ini.

Melalui pemetaan struktur atomik ribosom dengan sinar-X, ia membuktikan bahwa kehidupan bukan bekerja secara acak, melainkan dengan presisi yang nyaris puitis. Kesalahan satu atom saja bisa menghasilkan protein cacat — dan protein cacat adalah awal dari penyakit.

Di sinilah penuaan mengambil bentuk yang jarang disadari. Bukan hanya karena sel rusak, tetapi karena kemampuan membangun ulang ikut menurun.

Tubuh boleh rajin membersihkan diri lewat autofagi, telomer boleh dijaga agar tidak terlalu pendek, namun jika ribosom melemah, hasil akhirnya tetap rapuh. Ibarat rumah yang rajin disapu dan pagarnya masih utuh, tetapi tukangnya sudah renta dan salah ukur setiap memasang bata.

Ilmu biologi modern menemukan bahwa penuaan sangat erat kaitannya dengan turunnya efisiensi sintesis protein.

Protein yang salah lipat, lambat terbentuk, atau jumlahnya tidak seimbang, akan memicu peradangan kronis, penurunan otot, melemahnya imun, hingga degenerasi saraf. Bukan karena tubuh kekurangan bahan, tetapi karena pabriknya tidak lagi bekerja optimal.

Menariknya, ribosom tidak meminta banyak. Ia tidak rakus. Ia justru sensitif. Protein memang diperlukan, tetapi berlebihan justru membebani sistem.

Studi menunjukkan bahwa asupan protein moderat — sekitar 0,8 hingga 1 gram per kilogram berat badan — lebih mendukung umur panjang dibanding pola makan tinggi protein tanpa jeda. Tubuh tidak diciptakan untuk terus tumbuh. Ada masa ketika ia perlu berhenti membangun dan mulai memperbaiki.

Ribosom juga bergantung pada mikronutrien yang sering diremehkan. Magnesium, misalnya, adalah unsur struktural penting bagi kerja ribosom. Tanpanya, pabrik protein seperti mesin tanpa baut.

B-vitamin, khususnya folat, diperlukan untuk pembentukan RNA ribosomal. Sayuran hijau, kacang-kacangan, biji labu, dan makanan sederhana yang sering kita anggap remeh justru menjadi penopang paling penting.

Read Entire Article
Politics | | | |